Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Pagi ini, kami menerima kabar yang begitu berat. Kabar yang membuat hati seakan enggan mempercayainya. Seorang dokter yang begitu baik, begitu tulus, dan begitu berarti dalam perjalanan hidup keluarga kami telah berpulang menghadap Sang Pencipta.
Bagi banyak orang, beliau adalah seorang dokter anak yang luar biasa. Namun bagi keluarga kami, khususnya bagi anak-anak kami, beliau adalah sosok yang jauh lebih dari sekadar dokter. Beliau adalah tempat kami menitipkan harapan, tempat kami mencari ketenangan, dan sosok yang selalu mampu menghadirkan rasa aman di setiap kecemasan.
Sejak anak pertama kami lahir ke dunia, kemudian tumbuh bersama adik-adiknya, rasanya mereka tidak pernah benar-benar mengenal dokter anak lain sedekat mengenal beliau. Nama beliau selalu menjadi jawaban setiap kali mereka bertanya, "Kalau sakit nanti ketemu Dokter Dini, ya?"
Masih begitu jelas dalam ingatan kami, ketika putri pertama kami lahir melalui operasi caesar. Di tengah kesibukan dan padatnya jadwal praktik, beliau rela meninggalkan sementara pekerjaannya hanya untuk mendampingi saya dan istri di ruang operasi. Kehadiran beliau saat itu bukan sekadar sebagai seorang dokter, tetapi sebagai penyemangat dan penenang bagi kami yang sedang diliputi rasa cemas. Sikap itu tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup.
Kenangan lain yang begitu membekas adalah ketika anak kedua kami harus berjuang melawan asma selama kurang lebih tiga tahun. Masa-masa itu bukanlah perjalanan yang mudah. Ada begitu banyak malam yang dipenuhi kekhawatiran, ada begitu banyak doa yang kami panjatkan. Namun setiap kali bertemu beliau, kecemasan kami perlahan berubah menjadi harapan.
Beliau tidak hanya memberikan obat, tetapi juga memberikan perhatian, kesabaran, semangat, dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. Setiap penjelasan beliau selalu menenangkan. Setiap senyum beliau selalu membawa optimisme.
Bahkan, ada kalanya anak-anak kami yang sebelumnya rewel karena sakit, mendadak tersenyum dan ceria hanya karena bertemu beliau. Seolah-olah separuh kesembuhan datang bukan dari resep yang beliau tuliskan, melainkan dari ketulusan hati, kelembutan tutur kata, dan kasih sayang yang terpancar dari dirinya.
Beliau benar-benar memiliki anugerah untuk mencintai anak-anak. Dan mungkin itulah sebabnya anak-anak pun begitu mencintai beliau.
Hari ini, sosok yang selalu kami temui di Poli Anak RS PHC itu telah tiada. Rasanya masih sulit membayangkan bahwa mulai hari ini kami tidak akan lagi melihat senyum hangat beliau, mendengar sapaan lembutnya, atau menyaksikan beliau menyambut pasien-pasien kecil dengan penuh kasih.
Sedih... tentu saja kami sangat sedih.
Namun kami juga percaya bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Pemilik kehidupan. Kami harus belajar mengikhlaskan, karena kami yakin Allah lebih mencintai hamba-Nya yang baik.
Tiada kata yang bisa kami ucapkan selain pernyataan berjuta juta terimakasih yang tak terhingga serta untaian doa yang akan kami panjatkan untuk beliau
Terima kasih untuk perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian terhadap kesehatan dan kemanusiaan yang telah engkau lakukan
Terima kasih karena telah menjadi bagian dari perjalanan hidup keluarga kami.
Mungkin dokter telah pergi meninggalkan dunia ini, tetapi segala kebaikan, kasih sayang, dan jejak pengabdian dokter akan tetap hidup di hati begitu banyak keluarga yang pernah dokter tolong, termasuk keluarga kami.
Selamat Jalan Dokter Dini,
Insya Allah, surga telah menyambut seorang hamba yang sepanjang hidupnya menjadi perpanjangan tangan kasih sayang Allah bagi begitu banyak anak.
Sungguh beruntung surga akan kedatangan 'malaikat'nya yang baru...
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilaf dan dosanya, melapangkan kuburnya, menjadikannya taman dari taman-taman surga, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.
Allohumaghfirlaha warhamha waafihi wa'fuanha....
Ratno Wahyu Saputra
Teman sejawat, pasien, dan orang tua dari anak anak yang mencintai beliau
Komentar
Posting Komentar