30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

 



Hari itu Senin 12 Agustus 1996. Tiga puluh tahun yang lalu, pertama kali takdir mempertemukan kami di sebuah tempat yang kelak akan kami ucapkan dengan nada gemetar saking bangganya : Program Studi D3 Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Mari jujur saja. Aku yakin sebagian besar dari kami awalnya bisa duduk di kelas D3 Fisioterapi bukan semata karena panggilan jiwa, melainkan karena UMPTN dan berbagai jalur masuk PTN lainnya waktu itu sudah lebih dulu berkata, "Maaf, Anda belum beruntung." 😃

D3 Fisioterapi menjadi pelabuhan terakhir sebelum kapal harapan benar-benar berlayar ke universitas swasta.

Aku sendiri bisa masuk prodi fisioterapi unair karena itu adalah pilihan terakhir dan udah tidak ada pilihan yang bisa dipilih. 😃

Ada teman yang UMPTN nya nekat memilih jurusan Kedokteran atau jurusan Teknik. Hasilnya?

Akhirnya kedua jurusan itu melambaikan tangan dari kejauhan.

 

Ada juga teman yang memilih jurusan ini karena prinsip hidupnya sederhana:

"Pokoknya asal masuk PTN dulu. Soal nanti kuliahnya apa... itu urusan masa depan."

 

Yang lebih legendaris lagi, ada teman yang benar-benar mengira Fisioterapi itu adalah cabang dari Farmasi. Sehingga memilih Fisioterapi diaggap sama dengan masuk jurusan farmasi

Mungkin dalam pikirannya waktu itu:

"Nanti kalau lulus, kerjaannya nyusun obat sambil massage."

Begitu masuk semester pertama, baru sadar.

"Lho... kok isinya syaraf semua?"

Mau protes pun sudah terlambat...😃

 

Hingga akhirnya kita semua dipertemukan di Prodi Fisioterapi FK Unair Angkatan 96

Angkatan kami hanya sekitar 40an orang.

Jumlah yang pas untuk menciptakan kekompakan... sekaligus kekacauan.

Angkatan 96 terkenal bukan hanya karena rajin kuliah, tetapi juga gudangnya drama, komedi, dan kisah yang sampai sekarang masih layak diputar ulang.

Homebase paling legendaris tentu saja di Kost Darmawangsa VI/6.

Di sanalah lahir grup musik paling percaya diri sedunia.

Modal gitar satu.

Penyanyi banyak.

Yang nadanya benar... tidak ada. Semua kompak dengan suara sumbang

Mulai dari lagu ‘Tong Kosong’ nya Slank, ‘Mahameru’ nya Dewa 19, Hit ‘Terima Kasih' nya Zamrud dan yang paling memorable adalah ‘Tince Sukarti Binti Mahmud’ nya Iwan Fals

 Kalau sekarang ada acara pencarian bakat, mungkin juri akan berkata,

"Terima kasih sudah datang. Tolong jangan datang lagi." 😃

 

Tentu saja, kisah asmara tak pernah absen.

Ada diantara kami yang diam-diam saling suka.

Ada yang terang-terangan saling ejek lalu jadian. Eh, ujung ujungnya putus juga

Ada juga yang cintanya terhalang perbedaan keyakinan. Maksudnya si cowok yakin dengan si cewek, sedang cewek nya sama sekali gak yakin dengan si cowok 😃

 





Kalau di luar kampus kami punya homebase di Kost Darmawangsa VI/6, maka di kampus ada satu tempat yang rasanya wajib dikunjungi setiap hari: Warkop Mak Ri. Tiada hari tanpa nongkrong di warung pojok kampus itu. Lokasinya strategis. Berada di pojokan,  bersebelahan dengan parkiran motor. mau kuliah tinggal melangkah sedikit,  mau pulang tinggal cus, dan kalau mau menghindari kuliah... tinggal duduk di Mak Ri sambil nyaut tempe menjes, nikmatnya dunia…

Kombinasi secangkir kopi dan beberapa gorengan mampu membuat kami lupa bahwa beberapa menit kemudian ada kuliah yang harus diikuti.

Di Mak Ri, pembicaraan kami juga jauh lebih luas daripada materi kuliah. Mulai dari kisah asmara teman seangkatan, strategi demo mahasiswa, tukar-menukar informasi bocoran soal ujian, sampai mbahas boikot Fisioterapi. Kadang pembicaraannya serius. lebih sering gak serius nya dan gak penting blas..😃

 


Kalau musim ujian tiba, ada satu prinsip yang dipegang teguh.

"Datang paling pagi bukan karena rajin. Tapi supaya dapat posisi strategis."

Karena sejak dulu sudah diyakini:

Posisi menentukan prestasi.

Yang duduk dekat teman pintar mendadak merasa IQ naik 20 poin.

Walaupun kenyataannya tetap bingung membedakan antara origo dan insersio.

Masih ragu ‘skrotum’ itu letaknya di paha atau di jidat ya. wkwkwk...

 

Ada pula tradisi unik bermain tebak angka hampir setiap hari.

Entah angka apa yang ditebak.

Yang jelas, peluang menangnya hampir sama dengan peluang nilai A keluar tanpa belajar. 😃

 

Setiap akhir semester, selalu ada ekspedisi.

Kadang ke Sarangan.

Kadang ke Pacet

Kadang ke Tawangmangu

Kadang ke Bromo.

Lalu...

Ke Bromo.

Trus

Ke Bromo lagi

Seolah-olah Gunung Bromo punya kontrak eksklusif dengan Angkatan 96. Hehe..

 



Soal kendaraan?

Jangan ditanya.

Ada yang datang naik Honda Kepik.

Ada yang setia bersama Yamaha Robot Gedeg

Motor-motor yang sekarang mungkin lebih sering ditemukan di museum daripada di jalan raya. 😃

 

Yang paling heroik tentu aksi boncengan bertiga.

Helm?

Kadang satu.

Keberanian?

Tiga kali lipat.

Pernah pula ada teman yang dengan penuh percaya diri mencoba menyalip cewek cantik.

Gayanya sudah seperti pembalap GP.

Sayangnya...

Di tikungan rantai motornya memilih mengundurkan diri di tengah jalan.

Akhirnya bukan ceweknya yang menoleh.

Justru tukang tambal rantai. 😃

 

Di balik semua kelucuan itu, kami juga pernah menjadi bagian dari sejarah.

Kami adalah bagian dari eksponen mahasiswa 1998.

Ikut turun ke jalan.

Berdemonstrasi.

Menyuarakan perubahan.

Dan menjadi saksi masa ketika mahasiswa percaya bahwa suara mereka mampu mengubah negeri.

Sekarang kalau melihat foto-foto demo waktu itu, yang muncul bukan rasa garang.

Justru senyum sendiri.

"Lho... ternyata dulu aku punya rambut..." 😃

 


Lalu ada kisah yang sampai hari ini tetap menjadi legenda.

Waktu itu PKL di luar kota.

Semua sudah siap nunggu di stasiun

Kereta sudah bersiul.

Tapi...

Ada 2 teman yang tertinggal.

Yang terjadi berikutnya seperti adegan film laga.

Kereta melaju.

Kedua teman panik.

Honda Kepik dan Yamaha Robot langsung tancap gas, 2 motor yang mengangkut teman yang tertinggal tadi berubah menjadi Motocross. Polisi tidur dilompati, lampu merah diterjang, bunyi suara knalpot sampai menjerit. Kedua kendaraan itu menjelma jadi motor pengejar kereta tercepat se-Jawa Timur.

Syukurnya Yamaha Robot bisa ngejar kereta di stasiun berikutnya, tapi naas bagi Honda Kepik, lajunya yang ngos ngos an hanya mampu mengejar penyesalan, padahal gas nya udah diputar mentok

Kalau saat itu direkam drone, mungkin videonya udah viral dengan judul:

"Mission Impossible: Mengejar Kereta Yang Tak Terkejar." 😃


Dan masih banyak kisah cerita lain yang tak kalah gokil, seru, horor dan lain lain yang belum tertuang dalam tulisan ini

___________________________

Dan tak terasa tiga tahun pun berlalu.

Tiga tahun yang dipenuhi tawa.

Persahabatan.

Drama.

Cinta.

Air mata.

Laporan praktek.

Ujian Kompre

Dan tentu saja... nilai yang kadang membuat kami rajin berdoa.

 





Kini, tiga puluh tahun kemudian, kami berdiri di jalan hidup masing-masing.

Ada yang menjadi dosen.

Ada yang menjadi praktisi fisioterapi.

Ada yang menjadi akademisi.

Ada yang memimpin organisasi profesi.

Ada pula yang memilih jalan berbeda.

Menjadi perwira menengah TNI AL.

Menjadi pengusaha restoran, banker, pemilik hotel, owner apotek.

Dan berbagai profesi lain yang mungkin dulu sama sekali tidak kami bayangkan saat masih duduk di bangku kuliah.

 

Lucunya, dulu banyak dari kami masuk Fisioterapi karena merasa "tidak punya pilihan."

Tapi justru dari pilihan yang katanya "terpaksa" itu, lahir persahabatan yang tidak pernah terasa terpaksa.

 

Hari ini kami sadar, mungkin dulu awalnya kami memang salah memilih jurusan menurut rencana kami.

Tetapi Tuhan ternyata tidak salah memilihkan teman.

 

Dan kalau waktu bisa diputar kembali...

Saya rasa sebagian besar dari kita tetap akan memilih duduk di kelas yang sama.

Bukan karena ingin mengulang ujian anatomi, atau ujian faal.

Tetapi karena ingin sekali lagi tertawa bersama 40an orang yang telah menjadi bagian dari cerita hidup kami...

 

Selamat 30 tahun, Angkatan 96.

 

Rambut boleh berkurang, tenaga boleh menurun, motor boleh berganti mobil, bahkan sebagian dari kita sudah mulai berteman dengan kolesterol dan kacamata baca.

Tetapi semoga persahabatan ini tetap awet, sekompak, sekocak, dan sehangat tiga puluh tahun yang lalu.

Karena ternyata...

Ijazah memang mengantarkan kita pada profesi. Tetapi persahabatanlah yang membuat perjalanan itu selalu layak dikenang… 




Penulis : Ratno Wahyu Saputra


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh