Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Indonesia Kekurangan 26.000 Fisioterapis. Masalah Sebenarnya Mungkin Ada di Kampus

Gambar
  Mencetak Fisioterapis Baru Ternyata Tidak Semudah Membuka Program Studi Membuka Program Studi memang bisa menjadi awal. Namun, mencetak fisioterapis yang berkualitas membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit dicari: dosen. Minggu lalu, lini masa WhatsApp saya kembali menampilkan informasi yang sama. Kepala Program Studi S1 Fisioterapi sebuah universitas swasta terkenal di Surabaya kembali mengumumkan pembukaan lowongan dosen tetap fisioterapi. Bukan sekali ini saja. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, informasi serupa juga pernah dibagikan. Bahkan hingga beberapa hari yang lalu, saya masih melihat pengumuman tersebut kembali dipublikasikan. Dalam hati saya sempat bergumam, "Mencari dosen fisioterapi memang sesulit itu, ya?" Saya tentu tidak mengetahui bagaimana proses rekrutmennya. Bisa jadi proses seleksi masih berlangsung atau kampus sedang mencari kandidat terbaik. Namun, sebagai fisioterapis yang mengikuti perkembangan pendidikan profesi, saya menangkap satu pesan sed...

Lahir di tanggal yang sama dengan Messi, tapi nasib membawaku menjadi Fisioterapis dan Bonek...

Gambar
Setiap tanggal 24 Juni, selain bersyukur karena umur bertambah, aku juga punya alasan lain untuk sedikit merasa spesial. Bukan karena ada baliho ucapan selamat ulang tahun di Times Square. Bukan pula karena namaku masuk nominasi Ballon d'Or. Tapi karena aku lahir pada tanggal yang sama dengan beberapa nama besar sepak bola dunia. _____ Ketika ibuku melahirkanku ke dunia ini, aku hanyalah seorang bayi kecil yang tak tahu apa-apa tentang masa depan. Namun ternyata, pada tanggal yang sama, ribuan kilometer jauhnya di Yokohama, Jepang, lahir pula seorang bayi laki-laki yang kelak akan memukau dunia dengan kaki kirinya yang ajaib. Dunia kemudian mengenalnya sebagai Shunsuke Nakamura. Dan pada hari yang sama pula, di San Fernando, Argentina, lahir seorang anak yang tumbuh menjadi maestro lapangan hijau. Seorang seniman sepak bola yang mengajarkan bahwa umpan bisa lebih indah daripada gol. Namanya kemudian dikenang sebagai Juan Román Riquelme. Seolah takdir belum selesai menulis ceritanya...

Fisioterapi dan Hijrah : Sebuah Perjalanan yang sama sama membutuhkan kesabaran

Gambar
  Bulan Muharram mengingatkan kita pada peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak tantangan, pengorbanan, dan kesulitan yang harus dihadapi. Namun dengan kesabaran, keteguhan, dan pertolongan Allah SWT, hijrah tersebut menjadi awal lahirnya peradaban Islam yang lebih baik. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai hijrah juga dapat kita temukan dalam proses pemulihan kesehatan melalui fisioterapi. Meskipun berbeda konteks, keduanya memiliki kesamaan, yaitu sama-sama merupakan perjalanan menuju keadaan yang lebih baik dan membutuhkan kesabaran. Ketika seseorang mengalami stroke, cedera olahraga, nyeri punggung, patah tulang, atau gangguan gerak lainnya, sering kali ia berharap dapat sembuh dengan cepat. Namun kenyataannya, proses pemulihan tidak terjadi dalam semalam. Tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi, memperbaiki jaringan yang rusak, serta mempelajari kembali fungsi gerak yang terganggu...

Selamat Hari Fisioterapi Indonesia ke-58 “Optimalisasi Gerak, Transformasi Kualitas Hidup”

Gambar
  Peringatan Hari Fisioterapi Indonesia ke-58 bukan sekadar perayaan bertambahnya usia profesi, tetapi juga menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang fisioterapi dalam memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia.  Selama 58 tahun, fisioterapis telah hadir mendampingi individu dari berbagai usia dan kondisi kesehatan untuk mencapai kemampuan gerak yang optimal, memulihkan fungsi tubuh, meningkatkan kemandirian, serta mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik. Tema Hari Fisioterapi Indonesia tahun ini, “Optimalisasi Gerak, Transformasi Kualitas Hidup”, mengingatkan kita bahwa gerak bukan hanya aktivitas fisik semata, melainkan fondasi utama kehidupan. Kemampuan bergerak secara optimal memungkinkan seseorang untuk bekerja, belajar, berinteraksi, berkarya, dan menjalani kehidupan secara produktif. Ketika gerak terganggu akibat penyakit, cedera, maupun proses penuaan, kualitas hidup seseorang juga ikut terpengaruh. Di sinilah fisioterapi mengambil peran ...