Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Fisioterapi dan Ramadhan #3

Gambar
MBG, Puasa Bukan Alasan untuk Berhenti Bergerak 🌙 Setiap Ramadhan datang, ada satu fenomena tahunan yang selalu muncul: niat ibadah meningkat, tapi jumlah langkah harian menurun drastis. Puasa baru hari pertama, tubuh udah langsung diposisikan ke mode “hemat energi permanen”. Gerak dibatasi, jalan dikurangi, stretching ditunda, lalu semua dibungkus dengan kalimat sakti: “Lagi puasa.” Padahal puasa itu menahan makan dan minum, bukan menahan sendi supaya berkarat. Sebagai fisioterapis, saya sering melihat keluhan yang muncul justru karena terlalu sedikit bergerak. Leher kaku, punggung pegal, betis kencang, lutut mulai protes. Bukan karena puasanya berat, tapi karena tubuh terlalu lama diam. Di sinilah MBG seharusnya dimaknai dengan benar. MBG bukan “Mager Boleh Gratis”, tapi “ Membangun Badan & Gerak”. Gerak ringan justru membantu tubuh beradaptasi selama puasa. Sirkulasi darah lebih lancar, otot tetap lentur, dan energi lebih stabil. Ironisnya, banyak yang takut bergerak siang hari...

Fisioterapi dan Ramadhan #2

Gambar
Sahur Sehat, Otot Selamat (Catatan ala fisioterapis yang pernah kram sebelum dhuhur) Sahur itu ibadah. Tapi sayangnya, sering diperlakukan seperti formalitas: asal masuk nasi, minum dua teguk, lalu tidur lagi sambil berharap otot ikut memahami niat baik kita. Padahal tubuh itu bukan cenayang. Kalau sahurnya asal, protesnya nyata. Sebagai fisioterapis, saya sering ketemu keluhan klasik di bulan puasa: “Pak, kok betis sering kram ya?” “Leher kok kaku, padahal cuma puasa?” Jawabannya sering sederhana: hidrasi dan nutrisi sahur diabaikan. Minum air saat sahur itu bukan cuma biar nggak haus. Cairan membantu kerja otot, mencegah kram, dan menjaga elastisitas jaringan. Kurang minum bikin otot gampang “ngambek”, biasanya pas lagi sujud lama atau berdiri tarawih. Sahur juga jangan cuma nasi + mie instan + niat baik. Otot butuh: - Air putih cukup - Elektrolit alami - Protein sederhana - Sedikit lemak baik Kalau sahur cuma karbohidrat cepat, jangan kaget siang hari badan terasa kosong, dan malam ...

Fisioterapi dan Ramadhan #1

Gambar
Menyambut Ramadhan: Saat Tubuh Juga Ikut Bersiap Puasa Puasa itu bukan cuma latihan iman, tapi juga latihan adaptasi biologis. Biasanya kita sarapan santai jam 7, sekarang pindah ke jam sahur. Biasanya tidur nyenyak sampai subuh, sekarang bangun lebih awal. Ritme tubuh berubah, dan kalau kita tidak bantu menyesuaikan, yang muncul bukan khusyuk… tapi ngantuk plus pegal. Sebagai fisioterapis, saya selalu ingatkan: tubuh itu amanah. Dia perlu dipersiapkan, bukan dipaksa. Peran Fisioterapi: Biar Ibadah Tetap Nyaman.  Puasa bukan alasan tubuh kaku. Justru stretching ringan, latihan pernapasan, dan gerak santai membantu sirkulasi tetap lancar. Karena jujur saja, kalau badan sudah pegal, tarawih 8 rakaat terasa seperti 28 rakaat Latihan sederhana seperti: - Peregangan leher dan bahu - Mobilisasi tulang belakang ringan - Latihan pernapasan diafragma Itu membantu tubuh lebih rileks dan energi lebih stabil. Puasa Itu Sinkronisasi,  Ramadhan bukan cuma soal menahan lapar. Ia soal menyela...

Sumpah Profesi Fisioterapi ITSK Angkatan 1

Gambar
  Aku lulus dari program studi D3 Fisioterapi Universitas Airlangga dua puluh tujuh tahun yang lalu. Saat itu, aku mengira kelulusan adalah garis akhir. Ternyata aku keliru. Kelulusan hanyalah garis awal dari perjalanan panjang yang penuh liku, jeda, dan ujian batin. Aku bekerja, melayani pasien, dan menjalani profesi ini bertahun-tahun tanpa menyadari bahwa Allah sedang menyiapkanku untuk pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar gelar. Selama puluhan tahun, aku berada di ruang-ruang terapi. Aku menyentuh tubuh-tubuh yang sakit, menemani langkah yang tertatih, dan menyaksikan harapan yang tumbuh perlahan. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang terus mengganjal di hatiku: aku berjalan, tapi belum sepenuhnya sampai. Ada panggilan yang tertunda, ada amanah akademik dan profesi yang belum tuntas. Aku melihat banyak generasi baru melangkah lebih cepat—menyelesaikan pendidikan profesi, menyandang gelar, dan melaju dengan percaya diri. Sementara aku, dengan segala keterbatasa...

Dari GOR Ponti ke Alun-Alun: Kisah Lapak yang Tak Ikut Pindah Hati

Gambar
  Sepuluh tahun menjaga lapak di CFD GOR Ponti, hingga sebuah kebijakan mengajarkan bahwa berpindah tempat tak selalu berarti mudah memulai kembali. Lapak yang Menjadi Bagian dari Kehidupan Setiap Minggu pagi, hidup kami selalu dimulai lebih awal dari ayam. Bukan karena kami rajin mengejar pahala subuh berjamaah, tapi karena lapak. Lapak berukuran dua kali empat meter di CFD GOR Ponti Sidoarjo. Lapak yang setia hadir hampir sepuluh tahun, tanpa kalender merah, tanpa cuti bersama. Istriku adalah penjaga utamanya. Aku bagian bantu angkat, menghitung uang receh, dan sesekali pura-pura paham arah pasar. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk sekadar "jualan sampingan". Sepuluh tahun cukup untuk melihat anak-anak pembeli busana muslim tumbuh dari ukuran S ke ukuran "yang penting muat". Cukup lama untuk menyadari bahwa dunia jualan, seperti hidup, tidak pernah benar-benar stabil. Dari Busana Muslim ke Buah Segar Lima tahun pertama, kami fokus menjual busana muslim ...