Postingan

Bagi Sebagian Orang, Kemerdekaan Itu Bernama : Bisa Berjalan Lagi

Gambar
  Kemerdekaan yang Sering Kita Anggap Biasa Setiap bulan Agustus, jalanan penuh bendera merah putih.  tulisan "Dirgahayu Republik Indonesia" ada dimana mana, yang kadang hurufnya lebih ramai daripada isi pesannya. Kita pun ikut merayakan: ada lomba makan kerupuk, tarik tambang, sampai balap karung yang entah kenapa selalu membuat orang dewasa mendadak merasa menjadi atlet nasional. Namun, sebagai seorang fisioterapis, aku sering melihat makna kemerdekaan dari sudut yang berbeda. Bukan tentang lomba, bukan tentang upacara, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana: bisa berdiri dan berjalan lagi. Bagi banyak orang sehat, berjalan itu aktivitas otomatis. Bangun tidur, ambil air minum, ke kamar mandi, berangkat kerja, semua dilakukan tanpa berpikir. Kita baru sadar berharganya kaki ketika kaki itu 'ngambek'. Mirip listrik di rumah---baru terasa penting saat mati. Pengalaman yang Mengubah Cara Pandang Sebagai fisioterapis di salah satu RS Swasta di Surabaya. Sudah...

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Gambar
  Hari itu Senin 12 Agustus 1996. Tiga puluh tahun yang lalu, pertama kali takdir mempertemukan kami di sebuah tempat yang kelak akan kami ucapkan dengan nada gemetar saking bangganya : Program Studi D3 Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Mari jujur saja. Aku yakin sebagian besar dari kami awalnya bisa duduk di kelas D3 Fisioterapi bukan semata karena panggilan jiwa, melainkan karena UMPTN dan berbagai jalur masuk PTN lainnya waktu itu sudah lebih dulu berkata, "Maaf, Anda belum beruntung. " 😃 D3 Fisioterapi menjadi pelabuhan terakhir sebelum kapal harapan benar-benar berlayar ke universitas swasta. Aku sendiri bisa masuk prodi fisioterapi unair karena itu adalah pilihan terakhir dan udah tidak ada pilihan yang bisa dipilih. 😃 Ada teman yang UMPTN nya nekat memilih jurusan Kedokteran atau jurusan Teknik. Hasilnya? Akhirnya kedua jurusan itu melambaikan tangan dari kejauhan.   Ada juga teman yang memilih jurusan ini karena prinsip hidupnya sederhana: ...

Ketika Nakes Terlihat Kehilangan Empati di Media Sosial

Gambar
  Akibat dari kejadian yang viral minggu ini,  aku membaca banyak komentar tentang dokter dan tenaga kesehatan yang dianggap tidak memiliki empati di media sosial. Jujur, sebagai seorang fisioterapis, aku juga ikut merasa sedih setiap kali melihat hal seperti itu. Namun aku percaya, sebagian besar dokter dan tenaga kesehatan bukanlah orang yang tidak punya hati. Jumlah yang berkomentar secara tidak empatik sebenarnya sangat kecil dibanding ribuan nakes yang setiap hari bekerja dengan tulus. Hanya saja, profesi dokter dan tenaga kesehatan masih dipandang terhormat oleh masyarakat. Karena itu, satu komentar yang kurang tepat bisa berdampak besar, menyebar cepat, lalu menjadi viral. Aku sendiri memahami bahwa di lapangan, menjadi tenaga kesehatan tidak selalu mudah. Ada saat pasien datang bersamaan, pekerjaan belum selesai, administrasi menumpuk, pasien komplain, pasien mengalami perubahan kondisi mendadak, bahkan ada pasien yang tidak mengikuti instruksi terapi. Pada titik te...

Putri Anda Sedang Tumbuh Tinggi. Sudahkah Melihat Punggungnya Hari Ini?

Gambar
Suatu sore di klinik fisioterapi, seorang remaja putri datang bersama ibunya. Wajahnya tampak biasa saja. Tidak terlihat kesakitan. Jalannya juga normal. Kalau hanya melihat sekilas, mungkin tidak ada yang mengira ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Ibunya kemudian mengeluarkan hasil foto rontgen dari dalam map plastik yang sudah agak kusut. Setelah saya melihat hasilnya, tertulis diagnosis skoliosis dengan sudut Cobb lebih dari 25 derajat. Saya sempat terdiam beberapa detik. Bukan karena ini kasus yang langka. Justru sebaliknya. Dalam beberapa tahun terakhir, saya beberapa kali menjumpai remaja putri datang ke klinik dengan kondisi yang hampir serupa. Kelengkungan tulang belakangnya sudah tidak bisa lagi disebut ringan. Yang selalu muncul di pikiran saya justru pertanyaan lain. "Kapan sebenarnya kelengkungan ini mulai terjadi?" Lalu muncul pertanyaan berikutnya. "Apakah selama ini orang tuanya tidak menyadarinya?" Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan siapa pun....

Sudahkah Kita Memberi Anak Kesempatan untuk Bergerak?

Gambar
  Di Hari Anak Nasional ini, saya teringat sebuah pemandangan yang kini semakin sering terlihat. Sekelompok anak duduk berdampingan. Suasananya tenang, tetapi bukan karena sedang bermain bersama. Mereka sibuk dengan gawai masing-masing. Sebagai fisioterapis, saya tidak menyalahkan teknologi. Gawai memang bagian dari kehidupan saat ini. Namun, saya sering bertanya, kalau waktu bermain terus berkurang, kapan tubuh anak belajar bergerak? Tumbuh kembang anak bukan hanya tentang tinggi dan berat badan. Mereka juga perlu belajar berlari, melompat, menjaga keseimbangan, menangkap bola, dan mengeksplorasi lingkungan. Semua itu berkembang melalui aktivitas fisik dan bermain. Fisioterapi bukan hanya membantu anak yang mengalami gangguan tumbuh kembang, tetapi juga mengingatkan kita bahwa gerak adalah kebutuhan dasar setiap anak. Biarkan anak mengenal teknologi, tetapi jangan sampai lupa mengenal rumput. Biarkan mereka mahir menggunakan gawai, tetapi tetap punya kesempatan berlari, bermain, d...

Antara Aku, Argentina dan Messi

Gambar
Lupakanlah kekalahan Argentina di final piala dunia 2026. Salah satu kekalahan 'unpredictable' sang juara bertahan di final piala dunia. Nyesek, kecewa, tapi aku harus respek pada tim ini. Dari dulu Argentina selalu ada tempat di hatiku.. _______ Aku lahir tepat sehari sebelum Argentina memainkan partai final dan akhirnya menjadi juara piala dunia untuk pertama kalinya dengan mengalahkan Belanda. Mungkin peristiwa hampir separo abad lalu hanya suatu kebetulan. Namun sejak mengetahui hal tersebut nama Argentina selalu terasa dekat di jiwa. Piala Dunia pertama yang benar-benar kuingat adalah ketika Diego Maradona membawa Argentina menjadi juara dunia 1986. Teringat aku diajak bapak menonton sepakbola di TV hitam putih yang kami punyai, kadang diajak nonton bareng dengan warga kampung sekitar. Saat itu, sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ada emosi, harapan, dan kebanggaan yang sulit dijelaskan. Sejak saat itulah Argentina menjadi tim yang selalu kutunggu setiap empat tahun sek...

Indonesia Kekurangan 26.000 Fisioterapis. Masalah Sebenarnya Mungkin Ada di Kampus

Gambar
  Mencetak Fisioterapis Baru Ternyata Tidak Semudah Membuka Program Studi Membuka Program Studi memang bisa menjadi awal. Namun, mencetak fisioterapis yang berkualitas membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit dicari: dosen. Minggu lalu, lini masa WhatsApp saya kembali menampilkan informasi yang sama. Kepala Program Studi S1 Fisioterapi sebuah universitas swasta terkenal di Surabaya kembali mengumumkan pembukaan lowongan dosen tetap fisioterapi. Bukan sekali ini saja. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, informasi serupa juga pernah dibagikan. Bahkan hingga beberapa hari yang lalu, saya masih melihat pengumuman tersebut kembali dipublikasikan. Dalam hati saya sempat bergumam, "Mencari dosen fisioterapi memang sesulit itu, ya?" Saya tentu tidak mengetahui bagaimana proses rekrutmennya. Bisa jadi proses seleksi masih berlangsung atau kampus sedang mencari kandidat terbaik. Namun, sebagai fisioterapis yang mengikuti perkembangan pendidikan profesi, saya menangkap satu pesan sed...