Putri Anda Sedang Tumbuh Tinggi. Sudahkah Melihat Punggungnya Hari Ini?




Suatu sore di klinik fisioterapi, seorang remaja putri datang bersama ibunya. Wajahnya tampak biasa saja. Tidak terlihat kesakitan. Jalannya juga normal. Kalau hanya melihat sekilas, mungkin tidak ada yang mengira ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Ibunya kemudian mengeluarkan hasil foto rontgen dari dalam map plastik yang sudah agak kusut. Setelah saya melihat hasilnya, tertulis diagnosis skoliosis dengan sudut Cobb lebih dari 25 derajat.

Saya sempat terdiam beberapa detik.

Bukan karena ini kasus yang langka. Justru sebaliknya. Dalam beberapa tahun terakhir, saya beberapa kali menjumpai remaja putri datang ke klinik dengan kondisi yang hampir serupa. Kelengkungan tulang belakangnya sudah tidak bisa lagi disebut ringan.

Yang selalu muncul di pikiran saya justru pertanyaan lain.

"Kapan sebenarnya kelengkungan ini mulai terjadi?"

Lalu muncul pertanyaan berikutnya.

"Apakah selama ini orang tuanya tidak menyadarinya?"

Pertanyaan itu bukan untuk menyalahkan siapa pun. Saya justru membayangkan betapa sibuknya para orang tua saat ini. Pagi bekerja, siang mengurus rumah, sore mengantar anak les, malam masih menemani belajar. Di tengah kesibukan itu, mungkin perhatian lebih banyak tertuju pada nilai rapor, jadwal sekolah, atau layar ponsel yang semakin sulit lepas dari tangan anak.

Sementara itu, ada perubahan kecil yang berjalan pelan-pelan.

Bahu kanan mulai sedikit lebih tinggi.

Pinggang mulai tampak tidak simetris.

Punggung perlahan membentuk lengkungan yang sebelumnya tidak ada.

Semuanya terjadi tanpa suara. Tanpa demam. Tanpa batuk. Bahkan sering kali tanpa rasa nyeri.

Kalau dipikir-pikir, tubuh memang unik. Ia tidak selalu berteriak ketika ada masalah. Kadang hanya berbisik. Sayangnya, kita sering baru mendengar ketika bisikan itu berubah menjadi teriakan.

Lucunya lagi, kita sering lebih cepat sadar kalau sepatu anak sudah kekecilan daripada sadar kalau bahunya mulai tidak sejajar.

Padahal, bisa jadi justru di sanalah tubuh sedang mengirimkan pesan yang sangat penting.

 

Skoliosis Sering Datang Tanpa Permisi

Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang ke arah samping yang melebihi batas normal. Bentuknya bisa menyerupai huruf C atau S.

Yang membuat kondisi ini sering terlambat diketahui adalah karena sebagian besar anak tidak mengeluhkan rasa sakit. Mereka tetap pergi ke sekolah, ikut ekstrakurikuler, bercanda dengan teman-temannya, bahkan masih semangat membuat konten di media sosial.

Karena tidak merasa sakit, orang tua pun menganggap semuanya baik-baik saja.

Padahal, tubuh sebenarnya sudah mulai memberikan tanda-tanda kecil.

Salah satu bahu terlihat lebih tinggi.

Pinggang kanan dan kiri tidak sama.

Tulang belikat tampak lebih menonjol di satu sisi.

Atau ketika memakai seragam sekolah, rok atau baju terlihat sedikit miring.

Tanda-tanda ini sering dianggap sepele. Mungkin karena kita memang lebih terbiasa memperhatikan wajah anak daripada punggungnya.

 

Jangan Salahkan Tas Sekolah

Kalau berbicara tentang skoliosis, ada satu benda yang hampir selalu menjadi tersangka utama.

Tas sekolah.

"Karena tasnya berat."

"Karena bawanya di satu bahu."

"Karena bukunya terlalu banyak."

Kasihan juga tas sekolah. Hampir setiap ada pembahasan tentang skoliosis, dia selalu menjadi kambing hitam.

Padahal, jenis skoliosis yang paling sering terjadi pada remaja adalah skoliosis idiopatik, yaitu skoliosis yang penyebab pastinya sampai sekarang belum diketahui.

Artinya, tas yang berat bukan penyebab utamanya.

Bukan berarti anak boleh membawa tas seberat galon air. Tas yang terlalu berat tetap bisa menyebabkan pegal, nyeri leher, atau nyeri bahu. Tetapi itu berbeda dengan penyebab utama skoliosis idiopatik.

Kadang kita memang lebih suka mencari sesuatu untuk disalahkan daripada meluangkan waktu mencari penjelasan yang benar.

 

 

Lima Menit yang Mungkin Sangat Berarti

Sebenarnya orang tua bisa melakukan pemeriksaan sederhana di rumah.

Mintalah anak berdiri tegak.

Perhatikan apakah kedua bahunya sejajar.

Lihat lekukan pinggang kanan dan kiri.

Kemudian minta ia membungkukkan badan perlahan. Amati dari belakang apakah ada sisi punggung yang tampak lebih tinggi.

Pemeriksaan sederhana ini dikenal sebagai Adam's Forward Bend Test. Tentu bukan untuk memastikan diagnosis, tetapi cukup membantu mengenali tanda awal yang perlu diperiksakan lebih lanjut.

Kalau ada hal yang mencurigakan, jangan menunggu sampai anak mengeluh nyeri.

Segeralah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Di Sini Fisioterapi Mulai Berperan

Banyak orang mengenal fisioterapi sebagai tempat pijat atau latihan setelah cedera.

Padahal, pada kasus skoliosis, fisioterapi memiliki peran yang jauh lebih luas.

Fisioterapis akan mengevaluasi postur tubuh, keseimbangan otot, pola gerak, dan fungsi tubuh secara menyeluruh. Dari hasil pemeriksaan itu kemudian disusun program latihan yang disesuaikan dengan usia, derajat kelengkungan, dan kondisi masing-masing anak.

Tujuannya bukan sekadar membuat tubuh terlihat lebih tegak.

Yang lebih penting adalah menjaga fungsi tubuh, memperbaiki kontrol postur, meningkatkan kualitas hidup, dan membantu mencegah perburukan kelengkungan selama masa pertumbuhan.

Pada kondisi tertentu, fisioterapi juga dikombinasikan dengan penggunaan brace sesuai anjuran dokter.

Karena itu, semakin dini diketahui, semakin besar peluang penanganannya dilakukan secara optimal.

 

Orang Tua Tidak Harus Menjadi Dokter

Saya tidak berharap setiap orang tua mampu membaca hasil rontgen.

Tidak juga harus hafal apa itu sudut Cobb.

Yang saya harapkan sederhana.

Luangkan waktu sesekali untuk benar-benar melihat anak.

Bukan hanya melihat nilai ulangannya.

Bukan hanya melihat layar ponselnya.

Bukan hanya melihat apakah uang jajannya masih cukup.

Tetapi juga melihat bagaimana tubuhnya tumbuh.

Kalau setiap minggu kita sempat mengecek isi kulkas, sesekali mengecek punggung anak rasanya juga tidak membutuhkan waktu lama.

Siapa tahu hanya lima menit.

Tetapi lima menit itu bisa menjadi awal dari deteksi dini yang sangat berarti.

 

 Apa harus dioperasi?

 Tidak semua skoliosis harus dioperasi.

 Tidak semua kelengkungan akan bertambah berat.

 Namun satu hal yang hampir selalu lebih menguntungkan adalah mengetahui kondisinya lebih awal.

 Sebagai fisioterapis, saya berharap semakin banyak orang tua yang tidak hanya bangga melihat anaknya bertambah tinggi, tetapi juga memperhatikan bagaimana postur tubuhnya berkembang.

 Karena tubuh anak tidak hanya sedang bertambah besar. Ia juga sedang membentuk masa depannya.

 Malam nanti, ketika putri Anda pulang sekolah atau selesai belajar, mungkin tidak ada salahnya meminta ia berdiri sebentar.

 Lihat punggungnya.

 Perhatikan bahunya.

 Amati posturnya.

 Semoga semuanya baik-baik saja.

 Tetapi kalau ternyata ada sesuatu yang tidak simetris, jangan panik. Periksakan lebih lanjut. Sebab dalam banyak kasus, mengenali lebih awal selalu lebih baik daripada menyesal belakangan.

 

Referensi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Scoliosis Research Society (SRS).
World Physiotherapy.
SOSORT (Society on Scoliosis Orthopaedic and Rehabilitation Treatment).


Penulis : Ratno Wahyu Saputra


Artikel ini diposting di 

https://www.kompasiana.com/wahyusaputra6324/6a60c65734777c3155410d84/putri-anda-sedang-tumbuh-tinggi-sudahkah-melihat-punggungnya-hari-ini


Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh