Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Bagi Sebagian Orang, Kemerdekaan Itu Bernama : Bisa Berjalan Lagi

Gambar
  Kemerdekaan yang Sering Kita Anggap Biasa Setiap bulan Agustus, jalanan penuh bendera merah putih.  tulisan "Dirgahayu Republik Indonesia" ada dimana mana, yang kadang hurufnya lebih ramai daripada isi pesannya. Kita pun ikut merayakan: ada lomba makan kerupuk, tarik tambang, sampai balap karung yang entah kenapa selalu membuat orang dewasa mendadak merasa menjadi atlet nasional. Namun, sebagai seorang fisioterapis, aku sering melihat makna kemerdekaan dari sudut yang berbeda. Bukan tentang lomba, bukan tentang upacara, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana: bisa berdiri dan berjalan lagi. Bagi banyak orang sehat, berjalan itu aktivitas otomatis. Bangun tidur, ambil air minum, ke kamar mandi, berangkat kerja, semua dilakukan tanpa berpikir. Kita baru sadar berharganya kaki ketika kaki itu 'ngambek'. Mirip listrik di rumah---baru terasa penting saat mati. Pengalaman yang Mengubah Cara Pandang Sebagai fisioterapis di salah satu RS Swasta di Surabaya. Sudah...

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Gambar
  Hari itu Senin 12 Agustus 1996. Tiga puluh tahun yang lalu, pertama kali takdir mempertemukan kami di sebuah tempat yang kelak akan kami ucapkan dengan nada gemetar saking bangganya : Program Studi D3 Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Mari jujur saja. Aku yakin sebagian besar dari kami awalnya bisa duduk di kelas D3 Fisioterapi bukan semata karena panggilan jiwa, melainkan karena UMPTN dan berbagai jalur masuk PTN lainnya waktu itu sudah lebih dulu berkata, "Maaf, Anda belum beruntung. " 😃 D3 Fisioterapi menjadi pelabuhan terakhir sebelum kapal harapan benar-benar berlayar ke universitas swasta. Aku sendiri bisa masuk prodi fisioterapi unair karena itu adalah pilihan terakhir dan udah tidak ada pilihan yang bisa dipilih. 😃 Ada teman yang UMPTN nya nekat memilih jurusan Kedokteran atau jurusan Teknik. Hasilnya? Akhirnya kedua jurusan itu melambaikan tangan dari kejauhan.   Ada juga teman yang memilih jurusan ini karena prinsip hidupnya sederhana: ...

Ketika Nakes Terlihat Kehilangan Empati di Media Sosial

Gambar
  Akibat dari kejadian yang viral minggu ini,  aku membaca banyak komentar tentang dokter dan tenaga kesehatan yang dianggap tidak memiliki empati di media sosial. Jujur, sebagai seorang fisioterapis, aku juga ikut merasa sedih setiap kali melihat hal seperti itu. Namun aku percaya, sebagian besar dokter dan tenaga kesehatan bukanlah orang yang tidak punya hati. Jumlah yang berkomentar secara tidak empatik sebenarnya sangat kecil dibanding ribuan nakes yang setiap hari bekerja dengan tulus. Hanya saja, profesi dokter dan tenaga kesehatan masih dipandang terhormat oleh masyarakat. Karena itu, satu komentar yang kurang tepat bisa berdampak besar, menyebar cepat, lalu menjadi viral. Aku sendiri memahami bahwa di lapangan, menjadi tenaga kesehatan tidak selalu mudah. Ada saat pasien datang bersamaan, pekerjaan belum selesai, administrasi menumpuk, pasien komplain, pasien mengalami perubahan kondisi mendadak, bahkan ada pasien yang tidak mengikuti instruksi terapi. Pada titik te...