Bagi Sebagian Orang, Kemerdekaan Itu Bernama : Bisa Berjalan Lagi

 





Kemerdekaan yang Sering Kita Anggap Biasa

Setiap bulan Agustus, jalanan penuh bendera merah putih.  tulisan "Dirgahayu Republik Indonesia" ada dimana mana, yang kadang hurufnya lebih ramai daripada isi pesannya. Kita pun ikut merayakan: ada lomba makan kerupuk, tarik tambang, sampai balap karung yang entah kenapa selalu membuat orang dewasa mendadak merasa menjadi atlet nasional.

Namun, sebagai seorang fisioterapis, aku sering melihat makna kemerdekaan dari sudut yang berbeda. Bukan tentang lomba, bukan tentang upacara, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana: bisa berdiri dan berjalan lagi.

Bagi banyak orang sehat, berjalan itu aktivitas otomatis. Bangun tidur, ambil air minum, ke kamar mandi, berangkat kerja, semua dilakukan tanpa berpikir. Kita baru sadar berharganya kaki ketika kaki itu 'ngambek'. Mirip listrik di rumah---baru terasa penting saat mati.

Pengalaman yang Mengubah Cara Pandang

Sebagai fisioterapis di salah satu RS Swasta di Surabaya. Sudah bertahun-tahun aku bertemu pasien dengan berbagai kondisi: stroke, cedera, operasi lutut, hingga gangguan saraf. Dari sekian banyak pengalaman, ada satu momen yang selalu aku ingat.

Seorang bapak pasca cedera tulang belakang datang dengan bantuan kursi roda. Awalnya beliau hanya bisa duduk dengan bantuan. Untuk berdiri perlu dua orang menopang. Saat pertama kali terapi, beliau berkata pelan, "Mas, saya ingin bisa jalan lagi. Tidak perlu jauh, yang penting bisa ke masjid sendiri."

Kalimat itu sederhana, namun bermakna dalam

Kita sering punya target besar: naik jabatan, beli mobil, liburan ke luar negeri. Sementara di ruang fisioterapi, ada orang yang target hidupnya hanya bisa berdiri dan melangkah dari ruang tamu ke teras tanpa dibantu.

Beberapa minggu kemudian, setelah latihan berdiri, latihan keseimbangan, dan latihan berjalan yang kadang lebih melelahkan daripada rapat tiga jam, beliau berhasil melangkah beberapa meter dengan walker. Istrinya langsung menangis. Beliau sendiri tersenyum lebar.

Aku pun ikut tersenyum, 'Alhamdulillah...'


Fisioterapi Bukan Sim Salabim

Banyak orang mengira fisioterapi itu seperti magic. Datang sekali, dipijat sedikit, ditempel alat, lalu pulang langsung bisa salto. Sayangnya tidak demikian.

Fisioterapi lebih mirip menanam pohon. Perlu waktu, latihan, pengulangan, dan kadang kesabaran tingkat dewa. Ada pasien yang semangat di ruang terapi, tetapi di rumah latihannya pensiun dini. Besok datang lagi dan berkata, "Kok belum ada perubahan ya, Mas?"

Aku biasanya hanya tersenyum. Dalam hati, aku ingin berkata, "Pak, otot juga butuh diajak kerja, bukan cuma diajak berharap."

Sedikit satir memang, tetapi itulah kenyataan yang sering kami temui.

Kemerdekaan Kecil yang Sangat Besar

Yang menarik, kemajuan pasien sering tidak spektakuler. Hari ini bisa berdiri 10 detik. Minggu depan 30 detik. Lalu bisa melangkah satu langkah, dua langkah, lima langkah.

Bagi orang lain mungkin biasa saja. Tetapi bagi pasien dan keluarganya, itu seperti memenangkan lomba 17-an tingkat nasional.

Aku pernah melihat pasien pascaoperasi lutut begitu gembira karena akhirnya bisa naik satu anak tangga tanpa pegangan. Ada juga pasien nyeri punggung yang berkata, "Mas, sekarang saya bisa pakai celana tanpa duduk." Kami berdua tertawa.

Di situlah aku belajar: kemerdekaan tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan megah. Kadang ia datang dalam bentuk gerakan kecil yang kembali dimiliki seseorang.

Pelajaran untuk Kita yang Masih Bisa Melangkah

Setelah bertahun-tahun menjadi fisioterapis, aku justru merasa sering diingatkan oleh pasien-pasien sendiri. Mereka mengajarkan bahwa tubuh yang masih bisa bergerak adalah nikmat yang luar biasa.

Jadi, ketika kita masih bisa berjalan ke dapur, naik tangga, mengantar anak, atau sekadar berjalan santai di pagi hari, jangan terlalu sering mengeluh hanya karena hidup tidak berjalan sesuai rencana.

Karena di ruang fisioterapi, aku melihat banyak orang yang rela berlatih berkali-kali, berkeringat, bahkan menahan frustrasi, hanya untuk mendapatkan kembali hal yang setiap hari kita lakukan tanpa rasa syukur.

Mungkin itulah makna kemerdekaan yang paling sunyi.

Bagi sebagian orang, kemerdekaan bukan tentang pidato panjang atau bendera yang berkibar tinggi.

Kemerdekaan itu bernama: bisa berdiri sendiri, bisa melangkah lagi, dan bisa menjalani hidup tanpa selalu bergantung pada orang lain...

MERDEKA.... !!!




Penulis : Ratno Wahyu Saputra
Artikel tayang di kompasiana :
https://www.kompasiana.com/wahyusaputra6324/6a7d6024ed6415763b0c5b23/bagi-sebagian-orang-kemerdekaan-itu-bernama-bisa-berjalan-lagi?page=all



Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh