Ketika Nakes Terlihat Kehilangan Empati di Media Sosial
Akibat dari kejadian yang viral minggu ini, aku membaca banyak komentar tentang dokter dan tenaga kesehatan yang dianggap tidak memiliki empati di media sosial. Jujur, sebagai seorang fisioterapis, aku juga ikut merasa sedih setiap kali melihat hal seperti itu.
Namun aku percaya, sebagian besar dokter dan tenaga kesehatan bukanlah orang yang tidak punya hati. Jumlah yang berkomentar secara tidak empatik sebenarnya sangat kecil dibanding ribuan nakes yang setiap hari bekerja dengan tulus. Hanya saja, profesi dokter dan tenaga kesehatan masih dipandang terhormat oleh masyarakat. Karena itu, satu komentar yang kurang tepat bisa berdampak besar, menyebar cepat, lalu menjadi viral.
Aku sendiri memahami bahwa di lapangan, menjadi tenaga kesehatan tidak selalu mudah. Ada saat pasien datang bersamaan, pekerjaan belum selesai, administrasi menumpuk, pasien komplain, pasien mengalami perubahan kondisi mendadak, bahkan ada pasien yang tidak mengikuti instruksi terapi. Pada titik tertentu, kita bisa merasa lelah, jenuh, bahkan mengalami burnout.
Kelelahan itu nyata. Tetapi kelelahan tidak boleh membuat kita lupa bahwa pasien yang datang juga sedang membawa rasa sakit, ketakutan, dan harapan.
Mungkin inilah pengingat bagi kita semua, termasuk aku sendiri: profesionalisme bukan hanya tentang ilmu dan keterampilan, tetapi juga tentang menjaga cara berbicara, terutama di ruang publik dan media sosial.
Karena kadang, satu kalimat yang kita anggap biasa saja bisa sangat membekas bagi pasien dan keluarganya.
Lalu apa solusinya?
Menurutku, solusinya bukan sekadar menyalahkan nakes yang salah berkomentar. Kita juga perlu memperbaiki beberapa hal:
Kepada teman sejawat, marilah belajar mengenali tanda burnout pada diri sendiri. Saat emosi sedang penuh, lebih baik menunda menulis komentar daripada menyesal setelahnya. Kita mesti membangun budaya saling mengingatkan antar sejawat. Bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk menjaga martabat profesi bersama. Keterampilan komunikasi empatik juga harus ditingkatkan, baik kepada pasien maupun di media sosial.
Institusi kesehatan juga perlu memberi ruang dukungan psikologis bagi tenaga kesehatan, karena nakes juga manusia yang bisa lelah secara fisik dan mental.
Dan yang paling sederhana: biasakan memvalidasi perasaan pasien terlebih dahulu, Memposisikan kami para nakes sebagai pasien bisa menjadi langkah awal yang lebih bijak
Kalimat seperti:
“Saya paham ini pasti melelahkan dan membuat cemas, kami akan berusaha membantu semaksimal mungkin.”
sering kali jauh lebih menenangkan daripada penjelasan panjang yang terdengar defensif.
Sebagai sesama tenaga kesehatan, aku tidak ingin saling menyalahkan. Aku hanya berharap kita semua tetap saling menguatkan agar tidak kehilangan hal yang paling mendasar dari profesi ini: kemanusiaan.
Karena pada akhirnya, pasien mungkin akan lupa berapa lama ia diterapi, lupa nama alat yang digunakan, bahkan lupa sebagian tindakan yang diberikan. Tetapi ia hampir tidak pernah lupa bagaimana ia diperlakukan ketika sedang berada di titik paling lemah dalam hidupnya.
Dan bagi kita para tenaga kesehatan, mungkin inilah pertanyaan yang paling penting untuk dibawa pulang setiap hari:
Apakah hari ini saya hanya bekerja sebagai tenaga kesehatan, atau saya juga hadir sebagai manusia bagi manusia yang sedang menderita?
Sebab ilmu membuat kita mampu mengobati, keterampilan membuat kita mampu menolong, tetapi empati lah yang membuat pertolongan itu terasa bermakna…..
Penulis : Ratno Wahyu Saputra
Artikel di diposting di kompasiana
https://www.kompasiana.com/wahyusaputra6324/6a769b13ed64155c61729405/ketika-nakes-terlihat-kehilangan-empati-di-media-sosial

Komentar
Posting Komentar