Indonesia Kekurangan 26.000 Fisioterapis. Masalah Sebenarnya Mungkin Ada di Kampus

 



Mencetak Fisioterapis Baru Ternyata Tidak Semudah Membuka Program Studi


Membuka Program Studi memang bisa menjadi awal. Namun, mencetak fisioterapis yang berkualitas membutuhkan sesuatu yang jauh lebih sulit dicari: dosen.


Minggu lalu, lini masa WhatsApp saya kembali menampilkan informasi yang sama. Kepala Program Studi S1 Fisioterapi sebuah universitas swasta terkenal di Surabaya kembali mengumumkan pembukaan lowongan dosen tetap fisioterapi. Bukan sekali ini saja. Dalam beberapa kesempatan sebelumnya, informasi serupa juga pernah dibagikan. Bahkan hingga beberapa hari yang lalu, saya masih melihat pengumuman tersebut kembali dipublikasikan.

Dalam hati saya sempat bergumam, "Mencari dosen fisioterapi memang sesulit itu, ya?"


Saya tentu tidak mengetahui bagaimana proses rekrutmennya. Bisa jadi proses seleksi masih berlangsung atau kampus sedang mencari kandidat terbaik. Namun, sebagai fisioterapis yang mengikuti perkembangan pendidikan profesi, saya menangkap satu pesan sederhana: mencari dosen fisioterapi yang memenuhi kualifikasi ternyata bukan perkara mudah


Pemikiran itu semakin menguat ketika saya membaca berita VOI yang mengutip pernyataan Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI). Dalam berita tersebut disebutkan bahwa Indonesia masih kekurangan sekitar 26.000 fisioterapis, sehingga diperlukan sinergi antara organisasi profesi, pemerintah, dan perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan tenaga fisioterapi nasional.


Ketika Kebutuhan Terus Meningkat, Jumlah Fisioterapis Belum Mengejar

Angka tersebut tidak terlalu mengejutkan. Selama lebih dari dua dekade bekerja sebagai fisioterapis, saya melihat sendiri bagaimana kebutuhan layanan rehabilitasi terus meningkat. Pasien stroke semakin banyak, kasus nyeri leher dan nyeri punggung akibat gaya hidup semakin sering ditemui, cedera olahraga tidak lagi hanya dialami atlet, sementara jumlah lansia Indonesia terus bertambah. Semua kondisi itu membutuhkan fisioterapis.


Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia telah melampaui 280 juta jiwa. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 14.678 fisioterapis, sedangkan Ikatan Fisioterapis Indonesia (IFI) mencatat jumlah fisioterapis terdaftar mencapai 16.527 orang. Artinya, rasio fisioterapis di Indonesia baru sekitar 0,05 fisioterapis per 1.000 penduduk, atau hanya satu fisioterapis untuk melayani sekitar 17.000 penduduk. Jumlah tersebut masih jauh dari kebutuhan ideal nasional yang diperkirakan mencapai 35.000--40.000 fisioterapis. Kondisi ini menjelaskan mengapa peluang karier fisioterapis masih terbuka sangat luas, baik di rumah sakit, klinik rehabilitasi, layanan home care, industri olahraga, maupun praktik mandiri.


Bandingkan dengan profesi kesehatan lainnya. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rasio dokter di Indonesia sudah mendekati 0,8 dokter per 1.000 penduduk, atau sekitar satu dokter untuk 1.200--1.300 penduduk. Jumlah perawat dan bidan bahkan mencapai ratusan ribu karena selama bertahun-tahun mendapat perhatian dalam aspek pendidikan, distribusi, dan rekrutmen. Dibandingkan profesi-profesi tersebut, jumlah fisioterapis masih relatif kecil, padahal kebutuhan rehabilitasi justru terus meningkat.


Rendahnya rasio tersebut juga menunjukkan bahwa tantangan fisioterapi di Indonesia bukan hanya soal distribusi tenaga, tetapi juga soal kapasitas pendidikan. Jika target kebutuhan minimal 35.000 fisioterapis ingin tercapai dalam beberapa tahun mendatang, Indonesia membutuhkan ribuan lulusan baru setiap tahunnya. Pertanyaannya, apakah kapasitas perguruan tinggi sudah siap untuk menghasilkan lulusan sebanyak itu?


Membuka Program Studi Bukan Tombol Ajaib

Persoalannya kemudian muncul: bagaimana cara menambah jumlah fisioterapis?

Jawaban yang paling sering terdengar adalah membuka program studi baru.

Sekilas memang terdengar sederhana. Jika Indonesia kekurangan fisioterapis, maka bukalah lebih banyak Program Studi Fisioterapi.

Tetapi menurut saya, persoalannya tidak sesederhana itu.

Sebuah program studi tidak cukup hanya memiliki gedung, ruang kuliah, laboratorium, atau alat praktik yang lengkap. Yang paling menentukan justru adalah sumber daya manusianya, yaitu dosen.

Di sinilah tantangan berikutnya mulai terlihat.

Tanpa dosen yang memenuhi kualifikasi akademik, program studi tidak akan mampu menjalankan proses pendidikan secara optimal. Membuka program studi hanyalah langkah administratif. Tantangan sesungguhnya baru dimulai setelah izin itu keluar.


Mengapa Lulusan S2 Lebih Memilih Menjadi Praktisi?

Setiap tahun semakin banyak fisioterapis yang berhasil menyelesaikan pendidikan magister. Ada yang mengambil S2 Fisioterapi secara linier, ada pula yang melanjutkan studi ke bidang lain yang masih berkaitan erat dengan kesehatan, seperti Kesehatan Masyarakat, Ilmu Biomedik, Manajemen Rumah Sakit, Ilmu Olahraga, maupun Pendidikan Kesehatan. Secara akademik, mereka memiliki bekal untuk menjadi dosen.


Namun, tidak sedikit yang tetap memilih berkarier sebagai praktisi.

Menurut saya, pilihan tersebut sangat rasional.

Profesi fisioterapis klinis memberikan ruang yang luas untuk berkembang. Bekerja di rumah sakit, klinik, home care, industri olahraga, membuka praktik mandiri, hingga peluang bekerja di luar negeri merupakan pilihan yang menarik. Selain tetap bersentuhan langsung dengan pasien, penghasilan yang diperoleh pun dalam banyak kasus lebih kompetitif.


Sebaliknya, menjadi dosen berarti memasuki dunia tridarma perguruan tinggi. Mengajar hanyalah salah satu tugas. Masih ada penelitian, pengabdian kepada masyarakat, publikasi ilmiah, akreditasi, administrasi akademik, hingga proses kenaikan jabatan fungsional yang panjang. Sayangnya, di banyak perguruan tinggi, kesejahteraan dosen fisioterapi belum selalu sebanding dengan beban tanggung jawab tersebut.


Kalau istilah fisioterapi, latihan pertama saja belum selesai, sudah ditambah home program.

Tidak heran jika sebagian lulusan akhirnya memilih tetap berada di dunia klinik.

Yang Kita Butuhkan Bukan Hanya Mahasiswa Baru, tetapi Juga Dosen Baru

Di sinilah saya melihat paradoks yang menarik.

Kita ingin menambah jumlah fisioterapis.

Untuk menghasilkan fisioterapis baru, kita membutuhkan lebih banyak mahasiswa.

Untuk menerima lebih banyak mahasiswa, kita membutuhkan lebih banyak program studi.

Tetapi untuk membuka dan menjalankan program studi, kita membutuhkan dosen yang memenuhi kualifikasi.

Sementara calon dosennya justru lebih memilih tetap berada di layanan klinis.

Inilah mata rantai yang sering luput dari pembahasan. Selama ini kita lebih banyak berbicara tentang kekurangan fisioterapis, tetapi belum banyak yang membicarakan regenerasi pendidiknya. Padahal, tanpa dosen yang cukup, kapasitas perguruan tinggi untuk mencetak lulusan baru juga akan terbatas.


Menurut saya, inilah saatnya perhatian tidak hanya tertuju pada pembukaan program studi baru. Pemerintah, perguruan tinggi, rumah sakit pendidikan, dan organisasi profesi perlu memikirkan bagaimana menjadikan profesi dosen fisioterapi sebagai pilihan karier yang menarik. Kesejahteraan yang lebih kompetitif, jenjang karier akademik yang jelas, kesempatan tetap aktif sebagai praktisi klinis, serta dukungan terhadap penelitian dapat menjadi bagian dari solusi.


Karena sesungguhnya, setiap fisioterapis yang hari ini membantu pasien pascastroke belajar berjalan kembali, mendampingi atlet pulih dari cedera, atau mengembalikan kemandirian seorang lansia, pernah dibimbing oleh seorang dosen.


Selama ini kita sering bertanya, mengapa Indonesia kekurangan fisioterapis?

Mungkin pertanyaan itu perlu sedikit diubah.

Mengapa semakin sedikit fisioterapis yang bercita-cita menjadi dosen?

Sebab tanpa dosen, tidak akan ada lulusan baru. Tanpa lulusan baru, kekurangan 26.000 fisioterapis hanya akan menjadi angka yang terus berulang dalam berbagai laporan. Membuka program studi memang penting, tetapi itu baru permulaan. Yang jauh lebih penting adalah memastikan ada orang-orang terbaik yang bersedia mengajar, meneliti, membimbing mahasiswa di laboratorium, dan mendampingi mereka di lahan praktik.

Karena pada akhirnya, mencetak fisioterapis baru ternyata memang tidak semudah membuka program studi.


Kreator: Ratno Wahyu Saputra



Artikel ini ditayangkan di laman kompasiana :

https://www.kompasiana.com/wahyusaputra6324/6a3cdc86ed64156a1a2ad1e2/indonesia-kekurangan-26-000-fisioterapis-masalah-sebenarnya-mungkin-ada-di-kampus




Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh