Antara Aku, Argentina dan Messi




Lupakanlah kekalahan Argentina di final piala dunia 2026. Salah satu kekalahan 'unpredictable' sang juara bertahan di final piala dunia. Nyesek, kecewa, tapi aku harus respek pada tim ini. Dari dulu Argentina selalu ada tempat di hatiku..

_______

Aku lahir tepat sehari sebelum Argentina memainkan partai final dan akhirnya menjadi juara piala dunia untuk pertama kalinya dengan mengalahkan Belanda.

Mungkin peristiwa hampir separo abad lalu hanya suatu kebetulan. Namun sejak mengetahui hal tersebut nama Argentina selalu terasa dekat di jiwa.


Piala Dunia pertama yang benar-benar kuingat adalah ketika Diego Maradona membawa Argentina menjadi juara dunia 1986. Teringat aku diajak bapak menonton sepakbola di TV hitam putih yang kami punyai, kadang diajak nonton bareng dengan warga kampung sekitar. Saat itu, sepak bola bukan sekadar pertandingan. Ada emosi, harapan, dan kebanggaan yang sulit dijelaskan. Sejak saat itulah Argentina menjadi tim yang selalu kutunggu setiap empat tahun sekali.


Sebagai penggemar Argentina, tentu tidak semua cerita berakhir bahagia. Aku ikut merasakan sesaknya ketika Argentina kalah di final Piala Dunia 1990. Bertahun-tahun kemudian, rasa itu datang lagi pada final Piala Dunia 2014. Rasanya seperti melihat mimpi yang sudah begitu dekat, tetapi akhirnya lepas begitu saja.


Lalu datanglah seorang pemain yang selama lebih dari dua dekade menghiasi layar televisi dan perjalanan hidupku sebagai penikmat sepak bola: Lionel Messi.


Ada satu hal kecil yang selalu membuatku merasa dekat dengannya. Kami lahir di tanggal dan bulan yang sama, 24 Juni. Tentu saja itu tidak membuat kami memiliki kehidupan yang sama. Jauh sekali. Tetapi setiap kali melihat Messi bermain, ada perasaan unik yang sulit dijelaskan. Seolah-olah aku ikut menyaksikan perjalanan seseorang yang tumbuh bersama generasiku.


Aku melihat bagaimana ia dipuja, dikritik, dibanding-bandingkan dengan Maradona, dan berkali-kali gagal di pertandingan yang paling menentukan. Aku juga melihat bagaimana beban ekspektasi seakan menempel di pundaknya sepanjang karier.

Karena itu, ketika Argentina akhirnya menjuarai Copa America 2021, rasanya seperti ada sesuatu yang lunas. Dan ketika Messi mengangkat trofi Piala Dunia 2022, aku ikut merasakan kebahagiaan yang sulit digambarkan. Bukan hanya karena Argentina juara, tetapi karena seorang pemain hebat akhirnya mendapatkan apa yang selama ini terasa begitu jauh.


Namun waktu memang mengubah banyak hal.

Hari ini sepak bola sudah tidak lagi menjadi agenda wajib dalam hidupku. Tidak ada lagi semangat bergadang semalaman untuk menonton pertandingan seperti yang selalu aku lakukan di episode piala dunia sebelumnya. Jika pertandingan berlangsung dini hari, biasanya aku sudah tidur karena besok harus bekerja. Jika ada pertandingan pagi hari, sering kali aku sedang berada di rumah sakit atau dalam perjalanan menemui pasien homecare.


Usia mengajarkan bahwa hidup ternyata lebih luas daripada sembilan puluh menit di lapangan hijau.

Aku masih mengikuti berita tentang Argentina. Aku masih membaca hasil pertandingan. Aku masih tersenyum ketika melihat Messi mencetak gol. Tetapi semuanya terasa lebih tenang dibanding dulu.


Piala Dunia 2026 seakan menjadi antiklimaks perjalanan generasi emas Argentina. Mereka tampil begitu meyakinkan sejak fase grup, terus melaju dengan perkasa di fase gugur, hingga akhirnya mencapai partai final. Namun di laga final tadi pagi, Argentina harus mengakui keunggulan Spanyol. Kekalahan memang menyisakan kecewa, tetapi tidak menghapus rasa hormat terhadap perjuangan mereka.


Begitu pula dengan Lionel Messi.

Mungkin inilah pertandingan terakhirnya bersama tim nasional. sebuah babak besar dalam sejarah sepak bola benar-benar berakhir. Apa pun keputusan yang akan diambilnya, Messi telah meninggalkan warisan yang luar biasa.


Selama lebih dari dua dekade, ia mempersembahkan begitu banyak momen indah, memecahkan rekor demi rekor, memenangkan hampir semua gelar yang bisa diraih, dan menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dengan kesetiaan, kerja keras, dan kerendahan hatinya.


Ketika Messi menutup perjalanannya bersama Argentina, hidupku pun tetap berjalan seperti biasa. Besok pagi aku tetap menjadi seorang fisioterapis. Tetap berangkat ke rumah sakit. Tetap menemui pasien-pasien stroke yang menunggu latihan. Tetap menjalani jadwal homecare yang padat. Tetap mencari nafkah untuk keluarga.


Messi berada di panggung terbesar dunia. Aku berada di ruang terapi yang sederhana. Kami hidup di dunia yang sangat berbeda.

Namun entah mengapa, selalu ada benang tipis yang menghubungkan semuanya.


Argentina mengingatkanku pada masa kecil. Messi mengingatkanku pada perjalanan panjang sebuah generasi. Dan aku adalah seseorang yang kebetulan lahir tepat di hari Argentina meraih gelar juara dunia pertamanya, lalu tumbuh bersama kisah Maradona, menikmati keajaiban Messi, dan belajar bahwa menjadi penggemar bukan hanya tentang kemenangan.

Karena pada akhirnya, trofi bisa berpindah tangan, pemain hebat akan datang dan pergi, tetapi kenangan akan tetap tinggal.

Akhirnya, kami memang berada di dunia yang berbeda.

Namun Argentina, Lionel Messi, dan aku akan selalu memiliki sebuah ikatan kecil yang tak pernah benar-benar hilang....


Penulis : Ratno Wahyu Saputra 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh