Sumpah Profesi Fisioterapi ITSK Angkatan 1

 



Aku lulus dari program studi D3 Fisioterapi Universitas Airlangga dua puluh tujuh tahun yang lalu. Saat itu, aku mengira kelulusan adalah garis akhir. Ternyata aku keliru. Kelulusan hanyalah garis awal dari perjalanan panjang yang penuh liku, jeda, dan ujian batin. Aku bekerja, melayani pasien, dan menjalani profesi ini bertahun-tahun tanpa menyadari bahwa Allah sedang menyiapkanku untuk pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar gelar.


Selama puluhan tahun, aku berada di ruang-ruang terapi. Aku menyentuh tubuh-tubuh yang sakit, menemani langkah yang tertatih, dan menyaksikan harapan yang tumbuh perlahan. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang terus mengganjal di hatiku: aku berjalan, tapi belum sepenuhnya sampai. Ada panggilan yang tertunda, ada amanah akademik dan profesi yang belum tuntas.


Aku melihat banyak generasi baru melangkah lebih cepat—menyelesaikan pendidikan profesi, menyandang gelar, dan melaju dengan percaya diri. Sementara aku, dengan segala keterbatasan hidup, memilih bertahan, bekerja, dan mengabdi. Bukan karena tidak mau, tetapi karena keadaan sering kali memaksa untuk menunda. Di titik ini, aku belajar bahwa hidup tidak selalu memberi jalan lurus; ada yang harus memutar jauh agar hatinya matang.


Tahun demi tahun berlalu. Aku mengira waktu telah menutup pintu. Namun Allah Maha Membuka. Ketika kesempatan untuk menempuh pendidikan profesi akhirnya datang, aku sadar: ini bukan sekadar soal gelar, tetapi tentang menyempurnakan amanah. Duduk kembali sebagai mahasiswa setelah lebih dari seperempat abad bekerja bukan perkara mudah. Aku harus menundukkan ego, mengalahkan rasa malu, dan berdamai dengan usia.


Aku belajar bersama generasi yang jauh lebih muda. Aku mengulang teori yang dulu terasa asing, kini menjadi penguat praktik yang telah kujalani puluhan tahun. Di sana aku merasakan satu hal yang sangat jelas: ilmu dan pengalaman akhirnya bertemu. Apa yang dulu kulakukan dengan naluri dan kebiasaan, kini memiliki landasan ilmiah dan profesional yang utuh.


Perjalanan menuju gelar profesi fisioterapis ini mengajarkanku makna kesabaran yang sesungguhnya. Bahwa tidak semua yang terlambat itu gagal. Bahwa Allah tidak pernah salah waktu. Selama puluhan tahun penantian ternyata adalah masa pematangan—agar aku menerima gelar ini bukan dengan kesombongan, tetapi dengan rasa syukur dan tanggung jawab.


Kini, ketika akhirnya aku meraih gelar profesi fisioterapis melalui ITSK RS dr Soepraoen pada hari rabu 11 Februari 2026 kemarin, perasaanku bukan euforia, melainkan haru. Aku tidak merasa lebih tinggi dari siapa pun. Aku justru merasa semakin kecil di hadapan Allah. Gelar ini bukan mahkota, melainkan amanah. Bukan tujuan, tetapi pengingat bahwa aku harus lebih berhati-hati, lebih jujur, dan lebih sungguh-sungguh dalam melayani.






Aku sadar, perjalanan ini bukan tentang mengejar pengakuan dunia. Ini tentang menepati janji kepada diri sendiri dan kepada profesi yang telah kutekuni selama puluhan tahun. Tentang menyempurnakan apa yang dulu tertunda. Tentang membuktikan bahwa istiqamah, meski pelan, tetap bernilai di sisi Allah.


Semoga setiap sentuhan yang kuberikan ke depan bukan hanya tepat secara klinis, tetapi juga tulus secara niat.

Semoga setiap langkah yang kupandu menjadi bagian dari amal yang diterima.

Karena pada akhirnya, bukan gelar yang akan menyelamatkan kita, melainkan bagaimana kita menjaga amanah dan tanggung jawab ketika sudah diberi kesempatan...


Ratno Wahyu Saputra, S.Kes Ft., S.KM., Ftr



#pilihfisioterapi 
#profesifisioterapis
#itsksoepraoen
#fisiosby #fisioPHC



Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh