Lahir di tanggal yang sama dengan Messi, tapi nasib membawaku menjadi Fisioterapis dan Bonek...





Setiap tanggal 24 Juni, selain bersyukur karena umur bertambah, aku juga punya alasan lain untuk sedikit merasa spesial.

Bukan karena ada baliho ucapan selamat ulang tahun di Times Square.

Bukan pula karena namaku masuk nominasi Ballon d'Or.

Tapi karena aku lahir pada tanggal yang sama dengan beberapa nama besar sepak bola dunia.

_____

Ketika ibuku melahirkanku ke dunia ini, aku hanyalah seorang bayi kecil yang tak tahu apa-apa tentang masa depan.

Namun ternyata, pada tanggal yang sama, ribuan kilometer jauhnya di Yokohama, Jepang, lahir pula seorang bayi laki-laki yang kelak akan memukau dunia dengan kaki kirinya yang ajaib. Dunia kemudian mengenalnya sebagai Shunsuke Nakamura.

Dan pada hari yang sama pula, di San Fernando, Argentina, lahir seorang anak yang tumbuh menjadi maestro lapangan hijau. Seorang seniman sepak bola yang mengajarkan bahwa umpan bisa lebih indah daripada gol. Namanya kemudian dikenang sebagai Juan RomΓ‘n Riquelme.


Seolah takdir belum selesai menulis ceritanya. Pada tanggal dan bulan yang sama,

Sembilan tahun kemudian dunia kembali menyambut seorang anak laki-laki di Rosario, Argentina. Saat itu tak ada yang tahu bahwa bayi mungil itu akan mengubah sejarah sepak bola selamanya. Tak ada yang menyangka bahwa kelak namanya akan diteriakkan di stadion-stadion seluruh dunia, dicintai lintas generasi, dan diperdebatkan sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Anak itu adalah Lionel Messi.

Seseorang yang hingga hari ini masih membuat jutaan manusia terpana. Seseorang yang membuat hal-hal mustahil terlihat biasa dan menginspirasi jutaan orang


Kadang aku tersenyum sendiri memikirkan semua ini. Di tanggal yang sama, takdir mempertemukan hari kelahiranku dengan tiga nama besar yang mengisi sebagian besar kenangan masa kecil dan kecintaanku pada sepak bola.

Aku tidak pernah menjadi pesepak bola hebat. Tetapi mengetahui bahwa aku berbagi tanggal lahir dengan Nakamura, Riquelme, dan Messi selalu terasa seperti hadiah kecil dari semesta—sebuah kebetulan yang terlalu indah untuk tidak disyukuri.


Saat pertama kali mengetahui fakta itu, aku sempat berpikir:

"Jangan-jangan aku sebenarnya juga ditakdirkan menjadi pesepakbola hebat?"

Lalu aku melihat perjalanan hidupku.

Messi mengoleksi trofi Piala Dunia.

Riquelme menjadi legenda Argentina.

Nakamura menjadi ikon sepak bola Jepang.

Sedangkan aku...

mengoleksi sertifikat seminar fisioterapi dan kartu anggota Bonek.

Ternyata semesta punya rencana lain.






Padahal waktu SD dulu aku juga pernah bermain bola.

Beberapa kali masuk tim kampung.

Berlari di lapangan yang lebih banyak tanah daripada rumput.

Gawangnya dari sandal jepit.

Bola kadang masuk selokan lebih sering daripada masuk gawang.

Tapi saat itu kami merasa sedang bermain di final Piala Dunia.

Sayangnya bakatku tidak berkembang seperti Messi.

Kalau Messi bisa melewati lima pemain lawan, aku kadang kesulitan melewati kubangan yang ada di tengah lapangan.

Kalau Riquelme terkenal karena visi bermainnya, aku terkenal karena sering salah mengoper.

Kalau Nakamura ahli tendangan bebas, aku ahli menendang bola keluar lapangan.

Sejak saat itu mungkin dunia sepak bola diam-diam sepakat:

"Anak ini lebih cocok jadi fisioterapis daripada striker." πŸ˜ƒ


Dan ternyata memang benar.

Nasib membawaku ke dunia fisioterapi.

Kalau dipikir-pikir, ada hubungan juga antara fisioterapi dan sepak bola.

Messi membuat orang kagum karena bisa berlari dan bergerak luar biasa.

Aku membantu pasien agar bisa kembali berjalan dan bergerak lebih baik.

Messi membuat stadion bersorak.

Aku membuat pasien tersenyum ketika nyerinya berkurang.

Memang skalanya berbeda, tapi sama-sama membahagiakan.


Kecintaanku pada sepak bola tidak pernah hilang.

Aku tetap mengikuti perkembangan sepak bola dunia.

Dan minggu ini rasanya seperti mendapat hadiah ulang tahun lebih awal.

Karena Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada akhirnya bergulir. 

Lebih istimewa lagi, pemain yang lahir pada tanggal yang sama denganku kembali membuat sejarah.

Di usia 39 tahun, Messi tampil di Piala Dunia keenamnya, sebuah pencapaian yang nyaris mustahil dibayangkan ketika ia pertama kali tampil pada 2006. 

Pada laga pembuka melawan Aljazair, Messi langsung memborong hattrick dan membawa Argentina menang 3-0. Hattrick itu menyamai rekor gol Piala Dunia milik Miroslav Klose. 


Belum selesai sampai di situ.

Kemarin pagi saat Argentina menghadapi Austria, Messi kembali mencetak dua gol dan membawa Argentina menang 2-0. Tambahan dua gol tersebut membuatnya menjadi top skor sepanjang masa Piala Dunia dengan total 18 gol, melewati rekor sebelumnya. 

Sementara Messi menambah rekor dunia, aku tadi pagi menambah jumlah pasien yang harus dievaluasi.

Sama-sama menambah angka, hanya beda jenis statistik. πŸ˜ƒ


Sebagai penggemar Argentina, tentu aku berharap perjalanan ini belum selesai.

Rasanya luar biasa melihat pemain yang lahir pada tanggal yang sama denganku masih mampu mendominasi panggung terbesar sepak bola dunia.



Sebagai Bonek, aku tentu tetap cinta Persebaya.

Sebagai pecinta sepak bola, aku tetap menikmati semua pertandingan.

Dan sebagai sesama manusia yang lahir pada 24 Juni, aku diam-diam ikut bangga setiap kali Messi mencetak gol.

Bukan karena kami saling kenal.

Bukan karena kami punya hubungan keluarga.

Tapi karena ada rasa lucu yang sulit dijelaskan.

Di satu sisi ada Messi yang sedang mengejar gelar Piala Dunia lagi di Amerika Serikat.

Di sisi lain ada aku yang sedang menyusun program latihan pasien sambil mengecek klasemen grup.

Yang pasti kita sama-sama suka sepak bola.

Hanya saja jalan hidup kami sungguh berbeda 😊





Mungkin aku memang tidak menjadi legenda sepak bola seperti Messi, Riquelme, atau Nakamura. Tapi sebagai sesama manusia yang lahir pada 24 Juni dan tumbuh mencintai sepak bola, aku merasa punya cerita kecil yang unik dengan mereka.

Mereka mengukir sejarah di lapangan hijau.

Aku menghabiskan hidup membantu orang kembali bergerak melalui fisioterapi.

Dan setiap kali menonton sepak bola, terutama Argentina bermain, aku tetap merasa memiliki hubungan yang sulit dijelaskan dengan tiga nama itu.

Mungkin karena dalam khayalanku, di semesta yang lain, aku bisa bermain satu tim dengan Riquelme, Nakamura, dan Messi……

Hbd to me, Hbd Leo, Naka, Juan...


Penulis : Ratno Wahyu Saputra 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh