Skripsi : Hubungan Latihan Fisik dengan Skor KOS ADLS pada Lansia dengan Osteoarthritis Sendi Lutut

Penulis: Carissa Gani

Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (2018)



1. Latar Belakang

Osteoarthritis (OA) sendi lutut merupakan penyakit degeneratif yang paling sering dijumpai pada populasi lanjut usia. Penyakit ini ditandai oleh degenerasi kartilago artikular, pembentukan osteofit, nyeri, kekakuan sendi, penurunan lingkup gerak sendi (ROM), serta keterbatasan aktivitas sehari-hari. Di Indonesia prevalensi OA lutut meningkat seiring bertambahnya usia, mencapai sekitar 65% pada usia di atas 61 tahun. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya angka disabilitas dan menurunkan kualitas hidup lansia.

Berbagai pedoman, termasuk Osteoarthritis Research Society International (OARSI), merekomendasikan latihan fisik sebagai terapi konservatif utama pada OA lutut. Latihan fisik bertujuan meningkatkan kekuatan otot quadriceps dan hamstring sehingga mampu meningkatkan stabilitas sendi, mengurangi beban mekanis lutut, memperbaiki fungsi, dan menurunkan disabilitas. Pada penelitian ini digunakan THERA Trainer, yaitu alat latihan berbentuk pedal cycle yang dirancang untuk meningkatkan aktivitas fisik lansia secara aman.

Disabilitas fungsional pada OA diukur menggunakan Knee Outcome Survey Activities of Daily Living Scale (KOS-ADLS), yang mengevaluasi gejala serta kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah latihan fisik menggunakan THERA Trainer berhubungan dengan peningkatan skor KOS-ADLS pada lansia penderita OA lutut.


2. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Menganalisis hubungan latihan fisik dengan skor KOS-ADLS pada lansia dengan osteoarthritis sendi lutut.

Tujuan Khusus

  1. Menganalisis skor KOS-ADLS pada pasien OA lutut.
  2. Mengetahui derajat OA berdasarkan klasifikasi Kellgren-Lawrence.
  3. Mengetahui pengaruh latihan fisik menggunakan THERA Trainer pada lansia di RS PHC Surabaya.

3. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional.

Karakteristik penelitian

  • Jenis penelitian : Analitik observasional
  • Desain : Cross-sectional
  • Lokasi penelitian : RS PHC Surabaya
  • Waktu penelitian : Juli–Agustus
  • Jumlah sampel : 92 responden
  • Teknik sampling : Purposive sampling
  • Populasi : Lansia usia 60–70 tahun dengan OA lutut grade II–III
  • Variabel bebas : Latihan fisik menggunakan THERA Trainer
  • Variabel terikat : Skor KOS-ADLS
  • Instrumen :
    • Kuesioner KOS-ADLS
    • Data radiologi Kellgren-Lawrence
  • Analisis statistik :
    • Mann-Whitney U Test.

4. Prosedur Penelitian 

A. Tahap Persiapan

Peneliti:

  • memperoleh ethical clearance,
  • memperoleh izin penelitian dari rumah sakit,
  • melakukan seleksi responden sesuai kriteria inklusi dan eksklusi,
  • memberikan informed consent kepada seluruh responden.

B. Pemeriksaan Awal

Semua responden menjalani:

  • pencatatan usia,
  • jenis kelamin,
  • BMI,
  • pekerjaan,
  • pendidikan,
  • hasil foto rontgen Kellgren-Lawrence,
  • pengukuran fungsi menggunakan KOS-ADLS.

C. Intervensi Fisioterapi

Penelitian membandingkan dua kelompok:

Kelompok 1

Latihan fisik menggunakan THERA Trainer

THERA Trainer merupakan ergometer/pedal exercise yang digunakan untuk latihan ekstremitas bawah dengan pola gerakan menyerupai bersepeda.

Tujuan fisioterapi:

  • meningkatkan kekuatan quadriceps,
  • meningkatkan kekuatan hamstring,
  • meningkatkan stabilitas sendi lutut,
  • meningkatkan aktivitas fisik lansia,
  • mengurangi oxidative stress,
  • mengurangi proses inflamasi,
  • memperbaiki kemampuan fungsional.

Prosedur latihan

Berdasarkan protokol penelitian:

  1. Pasien duduk dengan nyaman pada alat THERA Trainer.
  2. Kedua kaki ditempatkan pada pedal.
  3. Pasien melakukan gerakan mengayuh secara kontinu sesuai toleransi.
  4. Latihan dilakukan sebagai bagian dari program latihan fisik selama 4 minggu.
  5. Intensitas latihan disesuaikan dengan kemampuan pasien.

Mekanisme fisiologis

Latihan pedal menghasilkan kontraksi berulang pada quadriceps dan hamstring sehingga:

  • meningkatkan kekuatan otot,
  • memperbaiki stabilitas sendi,
  • menurunkan beban mekanik pada kartilago,
  • meningkatkan sirkulasi,
  • menurunkan oxidative stress,
  • mengurangi inflamasi,
  • memperbaiki fungsi aktivitas sehari-hari.

Kelompok 2

Kelompok pembanding tidak menggunakan THERA Trainer dan hanya menjalani aktivitas sehari-hari sesuai kebiasaan mereka.


D. Evaluasi

Setelah 4 minggu, seluruh responden kembali dievaluasi menggunakan:

  • KOS-ADLS,
  • data rekam medis,
  • hasil pemeriksaan radiologi bila diperlukan.

Perubahan skor dibandingkan antara kelompok latihan dan kelompok kontrol.


5. Hasil Penelitian

Karakteristik responden:

  • Sampel sebanyak 92 orang.
  • Usia terbanyak 60–61 tahun (38%).
  • Perempuan sebanyak 80,9%.
  • BMI normal sebanyak 45,7%.
  • Ibu rumah tangga sebanyak 58,5%.
  • Pendidikan terbanyak tingkat SMA (45,7%).

Perubahan skor KOS-ADLS

  • Kelompok tanpa THERA Trainer mengalami peningkatan skor rata-rata 4,75%.
  • Kelompok THERA Trainer mengalami peningkatan skor rata-rata 5,84%.

Analisis Statistik

Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan:

  • Hubungan latihan fisik dengan skor disabilitas tidak signifikan (p = 0,234).
  • OA Grade II: p = 0,305.
  • OA Grade III: p = 0,724.

Walaupun terdapat peningkatan skor KOS-ADLS pada kedua kelompok, peningkatan tersebut tidak berbeda secara bermakna secara statistik.


6. Kesimpulan

Penelitian menyimpulkan bahwa:

  1. Latihan fisik menggunakan THERA Trainer meningkatkan skor KOS-ADLS pada lansia dengan osteoarthritis lutut.
  2. Kelompok tanpa THERA Trainer juga mengalami peningkatan skor KOS-ADLS.
  3. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara latihan fisik menggunakan THERA Trainer dengan skor disabilitas berdasarkan KOS-ADLS pada lansia dengan OA lutut grade II–III.
  4. Peneliti menyarankan penelitian selanjutnya menggunakan periode intervensi yang lebih panjang, kontrol aktivitas harian yang lebih ketat, dan mempertimbangkan penyakit penyerta yang dapat memengaruhi fungsi pasien.

Daftar Pustaka 

Berdasarkan daftar pustaka yang digunakan dalam skripsi dan literatur utama yang menjadi landasan penelitian, referensi penting meliputi:

  1. Osteoarthritis Research Society International (OARSI). Recommendations for the Management of Knee Osteoarthritis.
  2. World Health Organization (WHO). Global Recommendations on Physical Activity for Health.
  3. Kellgren JH, Lawrence JS. Radiological Assessment of Osteoarthritis.
  4. Irrgang JJ, Snyder-Mackler L, Wainner RS, et al. Development of the Knee Outcome Survey Activities of Daily Living Scale (KOS-ADLS).
  5. Salacinski AJ, et al. (2012). The Effects of Group Cycling on Gait and Pain-Related Disability in Individuals with Mild-to-Moderate Knee Osteoarthritis.
  6. American College of Rheumatology. Guidelines for the Management of Osteoarthritis.
  7. Felson DT. Osteoarthritis: New Insights.
  8. Hunter DJ, Bierma-Zeinstra S. Osteoarthritis.
  9. Kisner C, Colby LA. Therapeutic Exercise: Foundations and Techniques.
  10. World Health Organization. International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh