Skripsi : Pengaruh Pemberian TENS dan Tendon Glides Exercise terhadap Peningkatan Kemampuan Fungsional Tangan pada Penderita Carpal Tunnel Syndrome di RSU Nurussyifa Kudus

Lisnawati

Program Studi S1 Fisioterapi, Institut Teknologi Sains dan Kesehatan ITSK, 2024


1. Latar Belakang

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal akibat kerja yang terjadi karena kompresi nervus medianus di dalam terowongan karpal (carpal tunnel). Kondisi ini ditandai dengan keluhan kesemutan, nyeri, mati rasa, kelemahan otot tangan, kekakuan, hingga atrofi otot thenar yang pada akhirnya menyebabkan penurunan kemampuan fungsional tangan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pekerjaan dengan gerakan tangan berulang (repetitive movement), penggunaan gaya genggam yang kuat, postur pergelangan tangan yang tidak ergonomis, serta masa kerja yang panjang merupakan faktor risiko utama terjadinya CTS. Data International Labour Organization (ILO) menyebutkan sekitar 160 juta pekerja di dunia mengalami gangguan kesehatan akibat kerja, sedangkan data Health and Safety Executive (HSE) menunjukkan gangguan muskuloskeletal menjadi penyebab jutaan hari kerja hilang setiap tahun.

Di RSU Nurussyifa Kudus, jumlah pasien CTS terus meningkat. Pada tahun 2022 tercatat 216 pasien baru dengan mayoritas bekerja sebagai pekerja pabrik rokok dan pedagang yang setiap hari melakukan gerakan tangan berulang. Kondisi tersebut mendorong peneliti mengevaluasi efektivitas kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan Tendon Glides Exercise dalam meningkatkan kemampuan fungsional tangan penderita CTS.


2. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pemberian TENS dan Tendon Glides Exercise terhadap peningkatan kemampuan fungsional tangan pada penderita Carpal Tunnel Syndrome di RSU Nurussyifa Kudus.

Tujuan Khusus

  1. Mengukur kemampuan fungsional tangan sebelum pemberian TENS dan Tendon Glides Exercise.
  2. Mengukur kemampuan fungsional tangan setelah pemberian TENS dan Tendon Glides Exercise.
  3. Menganalisis perubahan kemampuan fungsional tangan sebelum dan sesudah intervensi fisioterapi.

3. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan Quasi Experimental dengan desain One Group Pre-test and Post-test Design, yaitu satu kelompok diberikan intervensi tanpa kelompok kontrol.

Karakteristik penelitian:

  • Desain penelitian : One Group Pre-test–Post-test
  • Lokasi penelitian : Poli Fisioterapi RSU Nurussyifa Kudus
  • Periode penelitian : Juli–Agustus 2023
  • Frekuensi intervensi : 2 kali/minggu selama 4 minggu (8 sesi terapi)
  • Populasi : 60 pasien CTS
  • Sampel : 30 pasien
  • Teknik sampling : Purposive Sampling
  • Variabel bebas : TENS dan Tendon Glides Exercise
  • Variabel terikat : Kemampuan fungsional tangan
  • Instrumen evaluasi :
    • Numeric Rating Scale (NRS)
    • Wrist and Hand Disability Index (WHDI)
  • Analisis statistik : Wilcoxon Signed Rank Test.

4. Prosedur Penelitian (Termasuk Intervensi Fisioterapi)

A. Seleksi Responden

Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria:

Kriteria inklusi

  • Usia 20–50 tahun.
  • Memiliki keterbatasan fungsi tangan akibat CTS.
  • Bersedia mengikuti penelitian dan menandatangani informed consent.

Kriteria eksklusi

  • Riwayat fraktur pergelangan tangan.
  • Riwayat operasi pergelangan tangan.
  • Memiliki komplikasi penyakit lain seperti tumor atau Parkinson.

B. Pemeriksaan Awal (Pre-test)

Sebelum terapi dilakukan:

  • Wawancara dan pemeriksaan fisioterapi.
  • Pengukuran nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS).
  • Pengukuran kemampuan fungsional tangan menggunakan Wrist and Hand Disability Index (WHDI) yang terdiri dari 10 pertanyaan mengenai nyeri, kesemutan, aktivitas sehari-hari, kekuatan tangan, menulis, bekerja, tidur, pekerjaan rumah, hingga aktivitas rekreasi.

C. Pelaksanaan Intervensi Fisioterapi

Program fisioterapi diberikan 2 kali setiap minggu selama 4 minggu sehingga setiap responden memperoleh 8 kali terapi.

1. Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Persiapan

  • Memastikan alat TENS berfungsi baik.
  • Memastikan kabel dan elektroda aman.
  • Pasien dilepas dari benda logam.
  • Pasien diposisikan senyaman mungkin.
  • Fisioterapis menjelaskan tujuan dan efek terapi.

Pelaksanaan

  • Dua elektroda dipasang pada sisi anterior dan posterior pergelangan tangan yang nyeri.
  • Menggunakan gelombang biphasic (pain management mode).
  • Phase duration 100 Ξs.
  • Durasi terapi 15 menit.
  • Terapi bertujuan mengurangi nyeri melalui stimulasi serabut saraf sensorik sehingga menghambat transmisi nyeri (mekanisme gate control).

2. Tendon Glides Exercise

Setelah TENS selesai, pasien melakukan latihan tendon glides yang terdiri dari empat gerakan:

a. Finger Down Position

  • Jari ditekuk perlahan hingga ujung jari menyentuh pangkal jari.
  • Ditahan 3 detik.
  • Istirahat 5 detik.
  • Diulang 10 repetisi.

b. Fist Position

  • Tangan dikepalkan perlahan.
  • Dipertahankan 3 detik.
  • Istirahat 5 detik.
  • Diulang 10 repetisi.

c. L Position

  • Jari ditekuk pada sendi metakarpofalangeal hingga membentuk huruf "L".
  • Ditahan 3 detik.
  • Istirahat 5 detik.
  • Diulang 10 repetisi.

d. Fingers to Palm Position

  • Jari ditekuk menuju telapak tangan.
  • Ditahan 3 detik.
  • Istirahat 5 detik.
  • Diulang 10 repetisi.

Latihan ini bertujuan meningkatkan mobilitas tendon fleksor, mengurangi adhesi, memperbaiki gliding tendon, meningkatkan fleksibilitas, mengurangi tekanan pada nervus medianus, serta meningkatkan kemampuan fungsional tangan.


D. Evaluasi (Post-test)

Setelah seluruh program selesai dilakukan evaluasi ulang menggunakan:

  • Numeric Rating Scale (NRS)
  • Wrist and Hand Disability Index (WHDI)

Selanjutnya dilakukan analisis statistik menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test.


5. Hasil Penelitian

Penelitian melibatkan 30 pasien CTS yang menjalani program fisioterapi selama empat minggu.

Hasil analisis menunjukkan:

  • Terjadi peningkatan kemampuan fungsional tangan setelah pemberian kombinasi TENS dan Tendon Glides Exercise.
  • Hasil uji Wilcoxon menunjukkan p = 0,000 (p < 0,05).
  • Dengan demikian terdapat pengaruh yang signifikan dari kombinasi TENS dan Tendon Glides Exercise terhadap peningkatan kemampuan fungsional tangan pada penderita CTS di RSU Nurussyifa Kudus.

6. Kesimpulan

Penelitian menyimpulkan bahwa pemberian kombinasi Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) dan Tendon Glides Exercise secara signifikan meningkatkan kemampuan fungsional tangan pada penderita Carpal Tunnel Syndrome.

Intervensi yang diberikan selama 8 sesi dalam 4 minggu mampu mengurangi gejala CTS seperti nyeri, kesemutan, dan keterbatasan aktivitas tangan sehingga meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Hasil analisis statistik dengan Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan nilai p = 0,000 (<0,05) yang membuktikan adanya pengaruh bermakna dari intervensi fisioterapi yang diberikan.


Daftar Pustaka Utama 

  1. Bahrudin. (2016). Patofisiologi Nyeri (Pain).
  2. Pratiwi, & Tenri Diah T. A. (2022). Carpal Tunnel Syndrome sebagai Gangguan Akibat Kerja.
  3. Adrian. (2020). Anatomi Nervus Medianus dan Carpal Tunnel Syndrome.
  4. Maratis, et al. (2022). Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) pada Gangguan Muskuloskeletal.
  5. Faidah, & Rakasiwi. (2017). Wrist and Hand Disability Index (WHDI).
  6. Bungin, B. (2014). Metodologi Penelitian Kuantitatif.
  7. Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
  8. Utami, K. P., Astuti, T. A., & Lubis, Z. I. (2022). Dampak Mobilisasi Neurodinamik dan TENS terhadap Intensitas Nyeri pada Pekerja Berisiko CTS.
  9. Anggraini, C., & Astari, R. W. (2021). Efektivitas Wrist Stretching, Tendon and Nerve Gliding Exercise dalam Menurunkan Nyeri dan Meningkatkan Fungsional Wrist pada CTS.
  10. Muawanah, S., Yulianti, R., & Ismaningsih. (2022). Efektivitas Ultrasound dan Stretching Exercise untuk Meningkatkan Kemampuan Fungsional Tangan pada Carpal Tunnel Syndrome.
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh