Tesis : Pengaruh Teknik Referred Treatment terhadap Nyeri, Fleksibilitas, dan Fungsional Aktifitas Fisik Pasien Low Back Pain di Klinik Fisiokeluarga Surabaya

Torang Sulaiman Lumban Toruan

Program Magister Kesehatan, Universitas Strada Indonesia, 2025


1. Latar Belakang

Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu penyebab utama disabilitas di dunia dan banyak terjadi pada usia produktif. Keluhan LBP menyebabkan nyeri, spasme otot, penurunan fleksibilitas lumbal, keterbatasan aktivitas fisik, penurunan produktivitas kerja, hingga meningkatnya biaya kesehatan. Secara global, prevalensi LBP seumur hidup diperkirakan mencapai 60–85%, sedangkan menurut Global Burden of Disease angka penderita meningkat dari sekitar 377,5 juta pada tahun 1990 menjadi 577 juta pada tahun 2017.

Di Klinik Fisiokeluarga Surabaya, sekitar 35% kasus muskuloskeletal yang ditangani merupakan LBP. Terapi yang selama ini digunakan antara lain infrared, ultrasound diathermy, TENS, traksi lumbal, latihan, dan massage. Peneliti kemudian mengembangkan Teknik Referred Treatment, yaitu teknik manual yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sebagai alternatif intervensi fisioterapi yang diharapkan mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan modalitas TENS dalam menurunkan nyeri, meningkatkan fleksibilitas, dan memperbaiki kemampuan fungsional pasien LBP.


2. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Menganalisis pengaruh Teknik Referred Treatment terhadap:

  • Nyeri
  • Fleksibilitas lumbal
  • Kemampuan fungsional aktivitas fisik

pada pasien Low Back Pain di Klinik Fisiokeluarga Surabaya.

Tujuan Khusus

Penelitian bertujuan untuk:

  1. Menganalisis perubahan nyeri sebelum dan sesudah intervensi.
  2. Menganalisis perubahan fleksibilitas sebelum dan sesudah intervensi.
  3. Menganalisis perubahan kemampuan fungsional sebelum dan sesudah intervensi.
  4. Membandingkan hasil kelompok TENS dengan kelompok Referred Treatment berdurasi 5, 10, dan 15 menit.

3. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan True Experimental Design dengan rancangan Pre-test–Post-test Two Group Design, kemudian dikembangkan menjadi empat kelompok berdasarkan durasi intervensi.

Karakteristik penelitian:

  • Jenis penelitian: True Experimental
  • Desain: Pre-test–Post-test Two Group Design
  • Lokasi: Klinik Fisiokeluarga Surabaya
  • Waktu penelitian: Agustus–September 2025
  • Populasi: Pasien Low Back Pain usia 25–65 tahun
  • Teknik sampling: Random sampling
  • Kelompok penelitian:
    • Kelompok 1 : TENS (kontrol)
    • Kelompok 2 : Referred Treatment 5 menit
    • Kelompok 3 : Referred Treatment 10 menit
    • Kelompok 4 : Referred Treatment 15 menit
  • Variabel independen: TENS dan Referred Treatment
  • Variabel dependen:
    • Nyeri
    • Fleksibilitas
    • Kemampuan fungsional
  • Instrumen penelitian:
    • Numeric Rating Scale (NRS)
    • Modified Schober Test
    • Oswestry Disability Index (ODI)
  • Analisis statistik: One-Way ANOVA disertai analisis Post Hoc, Effect Size, MCID, Time Trend, Dose–Response, Korelasi, dan Regresi.

4. Prosedur Penelitian (Termasuk Intervensi Fisioterapi)

Tahap 1. Pemeriksaan Awal

Semua responden menjalani pemeriksaan fisioterapi meliputi:

  • Pengukuran nyeri menggunakan Numeric Rating Scale (NRS)
  • Pengukuran fleksibilitas menggunakan Modified Schober Test
  • Pengukuran kemampuan fungsional menggunakan Oswestry Disability Index (ODI)

Tahap 2. Kelompok Kontrol (TENS)

Kelompok kontrol mendapatkan modalitas Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) sebagai terapi standar.

Tujuan pemberian TENS adalah:

  • meningkatkan ambang nyeri,
  • mengurangi persepsi nyeri,
  • merelaksasikan spasme otot,
  • meningkatkan fleksibilitas,
  • memperbaiki fungsi aktivitas fisik pasien.

Tahap 3. Kelompok Perlakuan (Referred Treatment)

Definisi

Referred Treatment merupakan teknik terapi manual yang tidak dilakukan pada pusat nyeri (center pain), tetapi pada referred point, yaitu titik penjalaran nyeri tertentu. Tujuan teknik ini adalah menurunkan nyeri, meningkatkan fleksibilitas, dan memperbaiki fungsi gerak.

Mekanisme fisiologis

Teknik ini bekerja dengan:

  • memberikan tekanan ringan pada titik-titik referred point,
  • merangsang sistem saraf sensorik pusat,
  • meningkatkan pelepasan opioid endogen (endorfin dan enkefalin),
  • mengurangi spasme otot,
  • meningkatkan relaksasi jaringan,
  • memperbaiki fleksibilitas lumbal,
  • meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional.

Teknik pelaksanaan

Referred Treatment dilakukan berupa manual pressure pada jalur referred point otot-otot tertentu, bukan langsung pada lokasi nyeri. Titik-titik tersebut tersebar pada beberapa kelompok otot seperti:

  • Suboccipital
  • Medial clavicula
  • Brachioradialis
  • Rhomboideus
  • Infraspinatus
  • Teres minor
  • Trapezius
  • Latissimus dorsi
  • Gluteus medius
  • Tensor fascia latae
  • Iliotibial band
  • Hamstring
  • Tibialis anterior

sesuai dengan panduan teknik yang dikembangkan peneliti.

Variasi dosis intervensi

Penelitian membandingkan tiga durasi Referred Treatment:

  • 5 menit
  • 10 menit
  • 15 menit

untuk mengetahui hubungan dosis–respons terhadap hasil terapi.


Tahap 4. Evaluasi

Setelah intervensi dilakukan pengukuran ulang menggunakan:

  • NRS
  • Modified Schober Test
  • ODI

Kemudian dilakukan analisis statistik antar kelompok menggunakan One-Way ANOVA, Post Hoc Test, analisis Effect Size, MCID (Minimal Clinically Important Difference), Time Trend Analysis, Dose Response Analysis, dan Regression Analysis.


5. Hasil Penelitian

Penelitian menunjukkan bahwa seluruh kelompok mengalami perbaikan, namun terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna.

Hasil statistik

Terdapat perbedaan signifikan antar kelompok pada:

  • Nyeri (NRS): p = 0,001
  • Fleksibilitas (Schober Test): p = 0,040
  • Fungsi (ODI): p < 0,001

Temuan klinis

  • Kelompok Referred Treatment 15 menit merupakan kelompok dengan hasil terbaik.
  • Hanya kelompok 15 menit yang mencapai MCID ≥2 poin pada mayoritas pasien untuk penurunan nyeri.
  • Semua kelompok mengalami peningkatan fleksibilitas yang mencapai batas MCID (≥1 cm), tetapi peningkatan terbesar terdapat pada kelompok 15 menit.
  • ODI menunjukkan large effect size.
  • Respons klinis meningkat bertahap dari 12,5% pada kelompok 1 hingga 100% pada kelompok 4.
  • Ditemukan pola dose–response yang konsisten:

15 menit > 10 menit > 5 menit > TENS.


6. Kesimpulan

Penelitian menyimpulkan bahwa Teknik Referred Treatment efektif meningkatkan hasil terapi fisioterapi pada pasien Low Back Pain.

Dibandingkan modalitas TENS, Referred Treatment memberikan hasil yang lebih baik dalam:

  • menurunkan nyeri,
  • meningkatkan fleksibilitas lumbal,
  • meningkatkan kemampuan fungsional aktivitas fisik.

Semakin lama durasi pemberian Referred Treatment, semakin besar manfaat klinis yang diperoleh. Protokol 15 menit direkomendasikan sebagai pilihan utama karena menghasilkan perbaikan paling optimal. Namun, durasi 5–10 menit tetap dapat menjadi alternatif yang lebih efisien pada pasien dengan kondisi ringan hingga sedang.





10 Referensi Daftar Pustaka

Berikut 10 referensi utama yang digunakan dalam tesis ini:

  1. Chou, R., et al. (2013). Low Back Pain: Epidemiology and Clinical Management.
  2. Wu, A., et al. (2020). Global Low Back Pain Burden and Prevalence.
  3. Rahma. (2019). Low Back Pain dan Produktivitas Kerja.
  4. Asmara. (2020). Epidemiologi Low Back Pain pada Usia Produktif.
  5. Pangestuti. (2020). Low Back Pain sebagai Penyakit Akibat Kerja.
  6. Permenkes RI No. 80 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Praktik Fisioterapi.
  7. Kepmenkes RI No. 376 Tahun 2007 tentang Standar Profesi Fisioterapi.
  8. Pramita. (2014). Patofisiologi dan Penatalaksanaan Low Back Pain.
  9. Suda, M. (2008). Occupational Low Back Pain and Disability.
  10. Torang, S. L. T., et al. (2025). Buku Panduan Teknik Referred Treatment untuk Fisioterapis (HAKI No. 000392323).
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh