Skripsi : Hubungan Penggunaan Gadget dengan Perkembangan Bicara dan Bahasa pada Anak Balita di RS PHC Surabaya

Penulis: Michele Stefanie

Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (2022).



1. Latar Belakang

Perkembangan anak dimulai sejak dalam kandungan dan berlangsung hingga masa remaja. Usia balita (1–5 tahun) dikenal sebagai golden period, yaitu masa ketika perkembangan otak, kemampuan bicara, bahasa, motorik, sosial, dan kemandirian berlangsung sangat cepat. Apabila perkembangan tidak sesuai dengan tahapan usianya, maka anak dapat mengalami keterlambatan perkembangan.

Secara global sekitar 10% anak mengalami keterlambatan perkembangan, sedangkan di Indonesia diperkirakan 5–10% balita mengalami gangguan perkembangan. Salah satu gangguan yang paling sering ditemukan adalah keterlambatan bicara dan bahasa. Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan angka keterlambatan bicara berkisar 33–39% pada anak usia dini. Kondisi ini dapat berdampak terhadap kemampuan belajar, membaca, berkomunikasi, dan perkembangan sosial anak apabila tidak dideteksi sejak dini.

Di sisi lain, perkembangan teknologi menyebabkan penggunaan gadget pada balita meningkat tajam. Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak usia di bawah 2 tahun tidak dianjurkan terpapar media digital, sedangkan anak usia 2–5 tahun dibatasi maksimal 1 jam per hari. Penggunaan gadget yang berlebihan diduga mengurangi interaksi verbal anak dengan lingkungan sehingga meningkatkan risiko keterlambatan bicara dan bahasa. Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui hubungan penggunaan gadget dengan perkembangan bicara dan bahasa pada balita di RS PHC Surabaya.


2. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mengetahui hubungan penggunaan gadget dengan perkembangan bicara dan bahasa pada anak balita di RS PHC Surabaya.

Tujuan Khusus

  1. Mengidentifikasi durasi dan frekuensi (intensitas) penggunaan gadget pada balita.
  2. Mengidentifikasi perkembangan bicara dan bahasa balita menggunakan KPSP.
  3. Menganalisis hubungan antara intensitas penggunaan gadget dengan perkembangan bicara dan bahasa.

3. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional.

Karakteristik penelitian

  • Jenis penelitian : Analitik observasional
  • Desain : Cross-sectional
  • Lokasi : RS PHC Surabaya
  • Waktu : Agustus–September 2022
  • Populasi : Seluruh anak usia 1–5 tahun yang berobat ke RS PHC Surabaya
  • Sampel minimal : 64 responden
  • Sampel yang dianalisis : 75 responden
  • Teknik sampling : Purposive sampling
  • Variabel independen : Intensitas penggunaan gadget
  • Variabel dependen : Perkembangan bicara dan bahasa
  • Analisis statistik : Koefisien Kontingensi C dengan tingkat signifikansi p<0,05.

4. Prosedur Penelitian

Tahap Persiapan

Peneliti melakukan seleksi responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, memperoleh persetujuan orang tua (informed consent), kemudian mengumpulkan identitas responden dan data rekam medis untuk memastikan kelayakan mengikuti penelitian.

Kriteria Inklusi

  • Anak usia 1–5 tahun.
  • Menggunakan gadget.
  • Diasuh langsung oleh ibu/orang tua dengan pola asuh demokratis.
  • Orang tua bersedia mengikuti penelitian.

Kriteria Eksklusi

Tidak diikutsertakan apabila memiliki:

  • Cerebral palsy
  • Down syndrome
  • Retardasi mental
  • Autism Spectrum Disorder (ASD)
  • Gangguan pendengaran
  • Gangguan penglihatan
  • Kelainan organ bicara
  • Hipotiroid
  • Riwayat prematur, BBLR, infeksi TORCH
  • Anak bilingual.

5. Intervensi Penelitian (Detail)

Penelitian ini bukan penelitian intervensi, melainkan penelitian observasional. Oleh karena itu tidak terdapat intervensi terapi maupun fisioterapi yang diberikan kepada responden. Peneliti hanya melakukan pengukuran paparan (penggunaan gadget) dan evaluasi perkembangan bicara-bahasa.

Pengukuran Intensitas Penggunaan Gadget

Orang tua mengisi kuesioner yang memuat:

  • jenis gadget,
  • lama penggunaan,
  • frekuensi penggunaan,
  • usia mulai menggunakan gadget,
  • aplikasi yang digunakan,
  • respon anak saat gadget dihentikan.

Kategori durasi

  • 1–30 menit/hari = skor 1
  • 31–60 menit/hari = skor 2
  • 60 menit/hari = skor 3

Kategori frekuensi

  • 1–3 hari/minggu = skor 1
  • 4–6 hari/minggu = skor 2
  • Setiap hari = skor 3

Kategori intensitas

  • Skor 2 = Rendah
  • Skor 3–4 = Sedang
  • Skor 5–6 = Tinggi.

Penilaian Perkembangan Bicara dan Bahasa

Peneliti menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP) sesuai usia anak.

Interpretasi:

  • Semua tugas sesuai usia dapat dilakukan → Normal
  • Tidak dapat melakukan satu atau lebih tugas → Terlambat.

6. Hasil Penelitian

Sebanyak 75 responden memenuhi kriteria penelitian.

Karakteristik responden

  • Laki-laki : 56%
  • Perempuan : 44%
  • Usia terbanyak 36–48 bulan (28%)
  • Sebagian besar ibu berusia 20–30 tahun
  • Pendidikan orang tua terbanyak Sarjana/Diploma (65,33%)
  • Sebagian besar ibu tidak bekerja (65,33%).

Intensitas penggunaan gadget

  • Intensitas tinggi : 39 anak (52%)
  • Intensitas sedang : 26 anak (34,67%)
  • Intensitas rendah : 10 anak (13,33%)

Karakteristik penggunaan gadget:

  • Durasi >60 menit/hari : 44%
  • Digunakan setiap hari : 57,33%
  • Mulai menggunakan gadget ≥24 bulan : 64%
  • Gadget paling sering digunakan: smartphone dan televisi
  • Aplikasi paling sering digunakan: YouTube
  • Respon paling sering ketika gadget dihentikan: marah atau menangis.

Hasil KPSP

  • Perkembangan normal : 44 anak (58,67%)
  • Terlambat : 31 anak (41,33%).

Analisis Hubungan

Hasil uji Koefisien Kontingensi C menunjukkan:

  • p = 0,000
  • r = 0,481

Interpretasi:

  • Terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara intensitas penggunaan gadget dengan perkembangan bicara dan bahasa.
  • Kekuatan hubungan sedang.
  • Arah hubungan positif, yang menunjukkan semakin tinggi intensitas penggunaan gadget maka semakin besar kemungkinan terjadi keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa.

7. Kesimpulan

Penelitian menyimpulkan bahwa:

  1. Sebagian besar balita di RS PHC Surabaya memiliki intensitas penggunaan gadget yang tinggi.
  2. Sebanyak 41,33% responden mengalami keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa berdasarkan KPSP.
  3. Terdapat hubungan yang signifikan antara intensitas penggunaan gadget dengan perkembangan bicara dan bahasa pada balita (p = 0,000).
  4. Hubungan tersebut memiliki kekuatan korelasi sedang (r = 0,481), sehingga semakin tinggi penggunaan gadget, semakin besar risiko keterlambatan perkembangan bicara dan bahasa pada anak balita.

Daftar Pustaka (10 Referensi Utama)

Berikut merupakan referensi utama yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini:

  1. American Academy of Pediatrics (AAP). Media and Young Minds.
  2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK).
  3. Jennifer Paris, Antoinette Ricardo, Dawn Rymond. Child Growth and Development.
  4. American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP). Children and Watching Screens.
  5. Zaini M, Soenarto. Persepsi Orang Tua terhadap Kehadiran Era Teknologi Digital pada Anak Usia Dini.
  6. Chusna PA. Pengaruh Media Gadget pada Perkembangan Karakter Anak.
  7. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak.
  8. Hurlock EB. Child Development.
  9. Denver Developmental Screening Test II (Denver II).
  10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh