Skripsi : Efektivitas Core Stability terhadap Fleksibilitas Otot Lumbal pada Kasus Low Back Pain di Klinik Pupuk Kujang Cikampek

 Penulis: Redi Rahmadi

**Program Studi Sarjana Fisioterapi, ITSK RS dr. Soepraoen Kesdam V/Brawijaya, 2024.



1. Latar Belakang

Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang paling banyak dijumpai di masyarakat. Kondisi ini ditandai dengan rasa nyeri pada daerah lumbal akibat kelemahan otot, ketidakseimbangan otot punggung, spasme otot, serta kelemahan otot abdominal dan multifidus. Kebiasaan duduk lama, berdiri, mengangkat beban dengan posisi yang tidak ergonomis, serta aktivitas kerja yang berulang menjadi faktor utama penyebab LBP.

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 4 dari 5 orang pernah mengalami LBP selama hidupnya. Di Indonesia prevalensi LBP diperkirakan mencapai 7,6–37% populasi. Penurunan fleksibilitas otot lumbal merupakan salah satu masalah utama pada penderita LBP karena mengganggu aktivitas fungsional sehari-hari.

Core Stability Exercise dipilih sebagai intervensi fisioterapi karena mampu mengaktivasi otot-otot inti (core muscles), meningkatkan stabilitas tulang belakang, mengurangi ketegangan otot, memperbaiki sirkulasi darah, meningkatkan fleksibilitas otot antagonis melalui mekanisme stretching aktif, serta memperbaiki fungsi gerak. Berdasarkan data kunjungan di Klinik Pupuk Kujang Cikampek selama tiga bulan terdapat 40 pasien LBP dari 180 kunjungan, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas latihan tersebut terhadap fleksibilitas otot lumbal.


2. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mengetahui efektivitas Core Stability Exercise terhadap fleksibilitas otot lumbal pada pasien Low Back Pain di Klinik Pupuk Kujang Cikampek.

Tujuan Khusus

  1. Mengetahui nilai fleksibilitas otot lumbal sebelum diberikan Core Stability Exercise.
  2. Mengetahui nilai fleksibilitas setelah 12 kali pemberian Core Stability Exercise.
  3. Menganalisis efektivitas Core Stability Exercise terhadap peningkatan fleksibilitas otot lumbal pada pasien Low Back Pain.

3. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Pre-Experimental One Group Pretest–Posttest Design. Seluruh responden diberikan perlakuan tanpa kelompok kontrol, kemudian dibandingkan hasil sebelum dan sesudah intervensi.

Karakteristik penelitian:

  • Jenis penelitian : Kuantitatif
  • Desain : One Group Pretest–Posttest
  • Lokasi : Klinik Pupuk Kujang Cikampek
  • Waktu penelitian : Juni–Juli selama 4 minggu
  • Populasi : 40 pasien Low Back Pain
  • Sampel : 20 pasien
  • Teknik sampling : Purposive Sampling
  • Variabel independen : Core Stability Exercise
  • Variabel dependen : Fleksibilitas otot lumbal
  • Alat ukur : Modified Sit and Reach Test
  • Analisis statistik : Paired t-test.

4. Prosedur Penelitian

A. Tahap Persiapan

Peneliti menentukan responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, meminta persetujuan mengikuti penelitian, kemudian melakukan pemeriksaan awal fleksibilitas menggunakan Modified Sit and Reach Test. Responden berusia 26–45 tahun dengan LBP kronis akibat spasme otot dan belum rutin mengikuti latihan kebugaran.


B. Pemeriksaan Fleksibilitas

Fleksibilitas diukur menggunakan Modified Sit and Reach Test.

Prosedur:

  • Pasien duduk di lantai.
  • Kedua tungkai lurus.
  • Pasien diminta membungkukkan badan ke depan semaksimal mungkin.
  • Jarak jangkauan tangan diukur dalam satuan sentimeter.
  • Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah program latihan.

C. Intervensi Fisioterapi (Core Stability Exercise)

Program latihan diberikan selama 4 minggu, dengan frekuensi 3 kali setiap minggu, sehingga total 12 sesi terapi. Setiap latihan dilakukan 10 repetisi dan ditahan selama 10 detik pada setiap repetisi.

Tujuan latihan

  • Mengaktifkan otot inti (core muscles).
  • Meningkatkan stabilitas tulang belakang.
  • Mengurangi spasme otot.
  • Meningkatkan fleksibilitas otot lumbal.
  • Memperbaiki kontrol postur.
  • Mengurangi beban pada diskus intervertebralis.

Latihan yang diberikan

Berdasarkan protokol latihan pada Bab II, program terdiri dari:

1. Basic Crunch

Target otot

  • Rectus abdominis
  • Transversus abdominis

Cara melakukan

  • Posisi terlentang.
  • Lutut ditekuk.
  • Kedua tangan menyilang di dada.
  • Angkat kepala dan bahu sekitar 30°.
  • Tahan 10 detik.
  • Turunkan perlahan.

2. Abdominal Crunch

Target otot

  • Rectus abdominis
  • Obliquus internus
  • Obliquus eksternus

Pelaksanaan

  • Posisi terlentang.
  • Lutut fleksi.
  • Kepala diangkat perlahan.
  • Kontraksikan otot perut.
  • Tahan 10 detik.

3. Bridging Exercise

Target

  • Gluteus maximus
  • Multifidus
  • Erector spinae

Pelaksanaan

  • Posisi terlentang.
  • Lutut fleksi.
  • Angkat panggul hingga tubuh membentuk garis lurus.
  • Pertahankan selama 10 detik.
  • Turunkan perlahan.

4. One Leg Bridging

Target

  • Core stabilizer
  • Multifidus
  • Gluteus
  • Hamstring

Pelaksanaan

  • Posisi seperti bridging.
  • Salah satu tungkai diangkat lurus.
  • Panggul tetap sejajar.
  • Tahan 10 detik.
  • Bergantian sisi kanan dan kiri.

Mekanisme Kerja Core Stability

Latihan meningkatkan aktivasi:

  • Transversus abdominis
  • Multifidus
  • Diafragma
  • Pelvic floor
  • Quadratus lumborum

Aktivasi simultan tersebut meningkatkan Intra Abdominal Pressure (IAP) sehingga memberikan stabilitas lumbal, mengurangi beban pada struktur pasif tulang belakang, memperbaiki koordinasi neuromuskular, meningkatkan fleksibilitas otot, dan mengurangi nyeri.


5. Hasil Penelitian

Penelitian melibatkan 20 pasien Low Back Pain.

Setelah menjalani Core Stability Exercise selama 12 sesi, terjadi peningkatan fleksibilitas otot lumbal yang bermakna.

Hasil utama:

  • Nilai rata-rata pre-test = 15,25 cm
  • Nilai rata-rata post-test = 27,20 cm
  • Rata-rata peningkatan fleksibilitas = 11,95 cm

Analisis menggunakan Paired t-test menunjukkan bahwa peningkatan fleksibilitas tersebut bermakna secara statistik, sehingga latihan Core Stability terbukti efektif meningkatkan fleksibilitas otot lumbal pada pasien Low Back Pain.


6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sebelum intervensi, rata-rata fleksibilitas otot lumbal pasien Low Back Pain adalah 15,25 cm.
  2. Setelah menjalani Core Stability Exercise selama 4 minggu (12 sesi), rata-rata fleksibilitas meningkat menjadi 27,20 cm.
  3. Terjadi peningkatan fleksibilitas rata-rata sebesar 11,95 cm.
  4. Program Core Stability Exercise terbukti efektif meningkatkan fleksibilitas otot lumbal pada pasien Low Back Pain di Klinik Pupuk Kujang Cikampek dan layak dijadikan salah satu intervensi fisioterapi berbasis latihan untuk kasus LBP.

Daftar Pustaka (10 Referensi Utama)

Berikut 10 referensi utama yang digunakan dalam skripsi sebagai dasar teori dan pembahasan:

  1. Kisner, C., Colby, L. A., & Borstad, J. (2017). Therapeutic Exercise: Foundations and Techniques.
  2. Magee, D. J. (2014). Orthopedic Physical Assessment.
  3. Irfan. (2013). Core Stability.
  4. Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
  5. Shebib, R., Bailey, J. F., Smittenaar, P., Perez, D. A., Mecklenburg, G., & Hunter, S. (2019). Low Back Pain Epidemiology.
  6. World Health Organization (WHO). (2019). Low Back Pain and Musculoskeletal Disorders.
  7. Pramita, S., dkk. (2015). Penatalaksanaan Low Back Pain.
  8. Yuliana. (2014). Pengaruh Core Stability Exercise terhadap Fleksibilitas Otot.
  9. Ameriawati, L., dkk. (2021). Pemberian Core Stability Exercise Mengurangi Nyeri Punggung Bawah pada Pasien Low Back Pain Myogenik.
  10. Pradita, A. (2021). Korelasi Fleksibilitas Otot Lumbal dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh