Skripsi : Pengaruh Ultrasound dan Latihan William Flexion terhadap Penurunan Nyeri dan Peningkatan Fleksibilitas Otot pada Kasus Low Back Pain Myogenic di Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Tuban

 

Penulis: Erlina Widyaningtyas
Program Studi: Sarjana Fisioterapi, Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS dr. Soepraoen, 2024



1. Latar Belakang

Low Back Pain (LBP) Myogenic merupakan gangguan muskuloskeletal yang berasal dari otot dan jaringan lunak di daerah lumbal. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh postur kerja yang tidak ergonomis, aktivitas mengangkat beban dengan teknik yang salah, posisi duduk terlalu lama, serta penurunan fleksibilitas otot akibat usia maupun aktivitas berulang. Kondisi tersebut menyebabkan spasme otot, nyeri, keterbatasan lingkup gerak, hingga penurunan kemampuan fungsional sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Secara global sekitar 84% populasi pernah mengalami Low Back Pain, sekitar 23% berkembang menjadi kronis, dan 12% berisiko mengalami disabilitas. Di Indonesia prevalensi LBP juga cukup tinggi, terutama pada pekerja dengan posisi kerja yang tidak ergonomis. Di RS Nahdlatul Ulama Tuban, kasus Low Back Pain merupakan salah satu kasus terbanyak yang mendapatkan pelayanan fisioterapi.

Fisioterapi memiliki berbagai modalitas untuk menangani LBP Myogenic. Penelitian ini menggunakan kombinasi Ultrasound (US) dan William Flexion Exercise. Ultrasound bertujuan mengurangi spasme dan nyeri melalui efek termal serta peningkatan sirkulasi darah, sedangkan William Flexion Exercise bertujuan meningkatkan fleksibilitas, memperkuat otot abdominal dan gluteal, memperbaiki stabilitas lumbopelvis, serta mengurangi tekanan pada segmen lumbal. Kombinasi kedua intervensi tersebut diharapkan mampu menurunkan nyeri sekaligus meningkatkan fleksibilitas otot pada penderita LBP Myogenic.


2. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pemberian Ultrasound dan William Flexion Exercise terhadap penurunan nyeri dan peningkatan fleksibilitas otot pada pasien Low Back Pain Myogenic di Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Tuban.

Tujuan Khusus

  1. Mengetahui tingkat nyeri dan fleksibilitas sebelum intervensi.
  2. Mengetahui tingkat nyeri dan fleksibilitas sesudah intervensi.
  3. Menganalisis pengaruh pemberian Ultrasound dan William Flexion Exercise terhadap penurunan nyeri dan peningkatan fleksibilitas otot pada penderita Low Back Pain Myogenic.

3. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Pre-Experimental One Group Pretest–Posttest Design.

Karakteristik penelitian:

  • Jenis penelitian : Kuantitatif
  • Desain : One Group Pretest–Posttest
  • Lokasi : Rumah Sakit Nahdlatul Ulama Tuban
  • Sampel : 20 pasien Low Back Pain Myogenic
  • Teknik sampling : Purposive Sampling
  • Frekuensi terapi : 2 kali setiap minggu
  • Pengukuran nyeri : Visual Analogue Scale (VAS)
  • Pengukuran fleksibilitas : Modified Schober Test
  • Analisis statistik : Uji normalitas dan uji Paired Sample t-test dengan tingkat signifikansi 5%.

4. Prosedur Penelitian

Tahap Persiapan

Peneliti melakukan:

  • Pengurusan izin penelitian.
  • Seleksi responden sesuai kriteria inklusi.
  • Penjelasan penelitian dan informed consent.
  • Pemeriksaan awal menggunakan VAS dan Modified Schober Test.

Tahap Pelaksanaan

Pre-test

Seluruh responden dilakukan pemeriksaan:

  • Intensitas nyeri menggunakan Visual Analogue Scale (VAS).
  • Fleksibilitas lumbal menggunakan Modified Schober Test.

Intervensi Fisioterapi

A. Ultrasound Therapy

Ultrasound merupakan modalitas elektroterapi yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi (>20.000 Hz). Terapi ini diberikan pada jaringan lumbal yang mengalami spasme dan nyeri.

Efek fisiologis Ultrasound:

  • meningkatkan vasodilatasi,
  • meningkatkan metabolisme jaringan,
  • memperbaiki sirkulasi darah lokal,
  • meningkatkan elastisitas kolagen,
  • mengurangi spasme otot,
  • menurunkan nyeri,
  • mempercepat penyembuhan jaringan lunak.

B. William Flexion Exercise

William Flexion Exercise merupakan latihan fleksi lumbal yang bertujuan meningkatkan fleksibilitas, mengurangi spasme otot, memperkuat otot abdominal dan gluteal, serta memperbaiki stabilitas lumbal.

Program latihan terdiri dari 7 gerakan, yaitu:

1. Pelvic Tilting

  • Aktivasi otot abdominal.
  • Mengurangi hiperlordosis lumbal.
  • Mobilisasi pelvis.

2. Single Knee to Chest

  • Fleksi satu tungkai menuju dada.
  • Meregangkan otot erector spinae.
  • Mengurangi ketegangan lumbal.

3. Double Knee to Chest

  • Fleksi kedua lutut ke arah dada.
  • Meregangkan otot punggung bawah.
  • Mengurangi kompresi sendi lumbal.

4. Partial Sit Up

  • Penguatan otot abdominal.
  • Meningkatkan stabilitas trunk.

5. Hamstring Stretch

  • Peregangan kelompok otot hamstring.
  • Meningkatkan fleksibilitas posterior chain.

6. Bending from Chair

  • Latihan fleksi trunk secara bertahap.
  • Meningkatkan fleksibilitas lumbal.

7. Wall Squat

  • Penguatan gluteus, quadriceps, dan stabilisator trunk.
  • Memperbaiki kontrol postur saat aktivitas berdiri.

Setelah seluruh program terapi selesai, responden kembali menjalani pemeriksaan VAS dan Modified Schober Test sebagai post-test.


5. Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan terhadap 20 responden yang mendapatkan kombinasi terapi Ultrasound dan William Flexion Exercise sebanyak dua kali setiap minggu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

  • terjadi penurunan intensitas nyeri setelah pemberian intervensi;
  • terjadi peningkatan fleksibilitas otot lumbal berdasarkan hasil Modified Schober Test;
  • hasil uji statistik menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antara nilai sebelum dan sesudah terapi.

Pembahasan penelitian menyimpulkan bahwa efek kombinasi Ultrasound dan William Flexion Exercise memberikan hasil yang lebih baik karena Ultrasound mengurangi nyeri dan spasme, sedangkan William Flexion Exercise meningkatkan fleksibilitas serta fungsi otot penyangga tulang belakang.


6. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Sebelum intervensi, pasien Low Back Pain Myogenic mengalami nyeri dan penurunan fleksibilitas otot lumbal.
  2. Setelah diberikan kombinasi Ultrasound dan William Flexion Exercise terjadi penurunan intensitas nyeri dan peningkatan fleksibilitas otot.
  3. Analisis statistik menunjukkan bahwa kombinasi kedua intervensi memberikan pengaruh yang signifikan (p = 0,000) terhadap penurunan nyeri dan peningkatan fleksibilitas otot pada pasien Low Back Pain Myogenic.
  4. Kombinasi Ultrasound dan William Flexion Exercise dapat direkomendasikan sebagai salah satu intervensi fisioterapi untuk kasus Low Back Pain Myogenic di fasilitas pelayanan kesehatan.

Daftar Pustaka (10 Referensi Utama dalam Skripsi)

  1. Halimah, N. (2022). William Flexion Exercise pada Low Back Pain Myogenic.
  2. Higgins. (2011). William Flexion Exercise.
  3. Nuriyani, D. (2017). William Flexion Exercise pada Nyeri Punggung Bawah.
  4. Hafid. (2020). Low Back Pain Myogenic.
  5. Ravindra. (2018). Low Back Pain.
  6. Shebib, R. (2019). Ergonomic Factors and Low Back Pain.
  7. Ikeda. (2019). Annual Prevalence of Low Back Pain.
  8. Mahmud. (2015). Low Back Pain Epidemiology.
  9. Pearce. (2006). Anatomi Columna Vertebralis.
  10. WHO. (2013). Low Back Pain as a Global Health Problem.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh