Skripsi : Perbedaan Pengaruh Wobble Board dan Calf Raise Exercise terhadap Peningkatan Stabilitas Ankle pada Pemain Bintang Futsal Academy Karawang

 

Penulis: Muhammad Niltal Amal
Program Studi: Sarjana Fisioterapi, Institut Teknologi, Sains dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Kesdam V/Brawijaya, 2024.



1. Latar Belakang

Cedera ankle merupakan salah satu cedera yang paling sering terjadi pada olahraga futsal karena karakteristik permainan yang cepat, melibatkan perubahan arah secara tiba-tiba, lompatan, pendaratan, akselerasi, dan deselerasi. Cedera ini dapat menyebabkan gangguan stabilitas ankle sehingga menurunkan performa atlet serta meningkatkan risiko cedera berulang (Chronic Ankle Instability/CAI).

Di Indonesia, olahraga futsal berkembang pesat, namun peningkatan prestasi belum sepenuhnya diimbangi dengan program latihan pencegahan cedera yang memadai. Stabilitas ankle menjadi komponen penting karena berhubungan dengan kemampuan menjaga keseimbangan, kontrol postural, dan performa atlet selama pertandingan.

Fisioterapi memiliki peran penting dalam meningkatkan stabilitas ankle melalui latihan terapeutik. Dua latihan yang banyak digunakan adalah Wobble Board Exercise dan Calf Raise Exercise. Wobble Board Exercise berfokus pada peningkatan propriosepsi, koordinasi neuromuskular, dan keseimbangan, sedangkan Calf Raise Exercise lebih menitikberatkan pada peningkatan kekuatan otot gastrocnemius dan soleus. Namun, efektivitas kedua latihan tersebut belum diketahui secara pasti pada pemain futsal di Bintang Futsal Academy Karawang, sehingga penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas keduanya.


2. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Mengetahui perbedaan pengaruh Wobble Board Exercise dan Calf Raise Exercise terhadap peningkatan stabilitas ankle pada pemain Bintang Futsal Academy Karawang.

Tujuan Khusus

  1. Mengetahui nilai Standing Stork Test sebelum pemberian Wobble Board Exercise.
  2. Mengetahui nilai Standing Stork Test sebelum pemberian Calf Raise Exercise.
  3. Mengetahui nilai Standing Stork Test setelah pemberian Wobble Board Exercise.
  4. Mengetahui nilai Standing Stork Test setelah pemberian Calf Raise Exercise.
  5. Menganalisis perbedaan peningkatan stabilitas ankle antara kedua metode latihan.

3. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan desain Quasi Experimental dengan Pretest–Posttest Two Group Design.

Karakteristik penelitian:

  • Jenis penelitian : Kuantitatif
  • Desain : Quasi Experimental
  • Dua kelompok perlakuan
  • Lokasi : Bintang Futsal Academy Karawang
  • Waktu penelitian : Juli–Agustus 2023 (4 minggu)
  • Sampel : 20 responden
  • Teknik sampling : Purposive Sampling
  • Pembagian kelompok :
    • Kelompok I : Wobble Board Exercise (10 responden)
    • Kelompok II : Calf Raise Exercise (10 responden)
  • Alat ukur : Standing Stork Test
  • Analisis statistik :
    • Shapiro-Wilk Test
    • Levene's Test
    • Paired Sample t-test
    • Independent Sample t-test
    • SPSS versi 23.

4. Prosedur Penelitian

A. Tahap Persiapan

Tahapan penelitian meliputi:

  • Mengurus izin penelitian kepada pihak Bintang Futsal Academy.
  • Menentukan subjek sesuai kriteria inklusi dan eksklusi.
  • Menyusun jadwal penelitian.
  • Memberikan edukasi mengenai prosedur latihan kepada seluruh responden.

B. Pengambilan Data Awal

Sebelum intervensi, seluruh responden menjalani:

  • Pemeriksaan Standing Stork Test (Pre-test).
  • Pengukuran dilakukan pada hari yang berbeda sebelum latihan dimulai.
  • Nilai awal stabilitas ankle dicatat sebagai data pre-test.

C. Pelaksanaan Penelitian

Responden dibagi menjadi dua kelompok menggunakan simple random sampling, kemudian diberikan intervensi sebagai berikut:

  • Kelompok I memperoleh Wobble Board Exercise sebanyak 12 sesi selama 4 minggu.
  • Kelompok II memperoleh Calf Raise Exercise sebanyak 12 sesi selama 4 minggu.
  • Setelah seluruh intervensi selesai dilakukan pengukuran kembali menggunakan Standing Stork Test (post-test).

5. Intervensi Fisioterapi 

Kelompok I : Wobble Board Exercise

Tujuan

  • Meningkatkan propriosepsi.
  • Meningkatkan keseimbangan.
  • Meningkatkan koordinasi neuromuskular.
  • Meningkatkan stabilitas ankle.
  • Mencegah cedera berulang.

Bentuk latihan

Program latihan terdiri dari:

1. Edge Circles

  • Berdiri dengan kedua kaki di atas wobble board.
  • Tepi papan menyentuh lantai.
  • Memutar papan searah jarum jam.
  • Durasi 1 menit.
  • 3 repetisi.
  • Istirahat 30 detik.

2. Counter Clockwise Edge Circles

  • Gerakan sama tetapi berlawanan arah jarum jam.
  • Durasi 1 menit.
  • 3 repetisi.

3. Partial Squat

  • Berdiri di atas wobble board.
  • Melakukan partial squat.
  • Mempertahankan keseimbangan selama 1 menit.
  • 3 repetisi.

Prosedur latihan

  • Berdiri di atas wobble board hingga seimbang.
  • Kedua tangan direntangkan ke depan.
  • Pinggul didorong ke belakang.
  • Lutut sedikit fleksi.
  • Salah satu kaki diangkat.
  • Bertahan selama 1 menit.
  • Diulang 5–10 kali sesuai kemampuan atlet.

Dosis

  • Frekuensi : 3 kali/minggu.
  • Lama program : 4 minggu.
  • Minggu 1–2:
    • 2 set × 1 repetisi.
    • Total latihan 10 menit.
  • Minggu 3–4:
    • 2 set × 2 repetisi.
    • Total latihan 20 menit.
  • Istirahat antar latihan : 15 detik.

Kelompok II : Calf Raise Exercise

Latihan diberikan untuk meningkatkan kekuatan otot gastrocnemius dan soleus sehingga meningkatkan stabilitas ankle.

Dosis latihan:

  • 3 set × 15 repetisi.
  • Gerakan naik (plantar fleksi) selama 3 detik.
  • Posisi menjinjit ditahan 3 detik.
  • Turun perlahan selama 3 detik.
  • Istirahat 30 detik setiap set.
  • Dilaksanakan 3 kali/minggu selama 4 minggu (12 sesi).

Pengukuran Outcome

Stabilitas ankle dievaluasi menggunakan Standing Stork Test, yaitu tes berdiri satu kaki untuk mengukur kemampuan mempertahankan keseimbangan statis. Nilai terbaik dari tiga kali percobaan digunakan sebagai hasil pengukuran.


6. Hasil Penelitian

Sebanyak 20 pemain futsal mengikuti penelitian dan dibagi menjadi dua kelompok (masing-masing 10 responden).

Kelompok Wobble Board

  • Mean pre-test : 22,50 ± 7,906
  • Mean post-test : 48,00 ± 8,563
  • p = 0,000

Menunjukkan peningkatan stabilitas ankle yang bermakna.

Kelompok Calf Raise Exercise

  • Mean pre-test : 21,50 ± 8,182
  • Mean post-test : 34,00 ± 7,746
  • p = 0,000

Calf Raise Exercise juga memberikan peningkatan stabilitas ankle yang signifikan.

Perbandingan Kedua Kelompok

Hasil Independent Sample t-test menunjukkan:

  • p = 0,001 (p < 0,05)

Artinya terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna antara kedua intervensi, di mana Wobble Board Exercise lebih efektif dibandingkan Calf Raise Exercise dalam meningkatkan stabilitas ankle pemain futsal.


7. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

  1. Wobble Board Exercise meningkatkan stabilitas ankle secara signifikan pada pemain futsal.
  2. Calf Raise Exercise juga meningkatkan stabilitas ankle secara signifikan.
  3. Kedua metode latihan efektif sebagai intervensi fisioterapi untuk meningkatkan stabilitas ankle.
  4. Wobble Board Exercise memberikan peningkatan stabilitas ankle yang lebih besar dibandingkan Calf Raise Exercise, sehingga lebih direkomendasikan sebagai latihan utama dalam program pencegahan cedera dan peningkatan performa atlet futsal.

Daftar Pustaka 

  1. Anggita, M. Y., & Ramadani, F. S. (2021). Perbedaan Intervensi Wobble Board Exercise dengan 4 Single Limb Hopping Exercise untuk Meningkatkan Stabilitas Ankle pada Kasus Sprain Ankle Kronik.
  2. Anggraeni, N. M. R., & Lesmana, S. I. (2021). Penambahan Calf Raise Exercise dan Ankle Theraband Exercise dengan Wobble Board Exercise terhadap Peningkatan Fungsional Ankle pada Kasus Ankle Syndesmosis.
  3. Anjasmara, B., Widanti, H. N., & Mulyadi, S. Y. (2021). Kombinasi Calf Raise Exercise dan Core Stability Exercise Dapat Meningkatkan Keseimbangan Tubuh.
  4. Dianpratiwi, S. (2019). Pengaruh Penambahan Close Kinetic Chain pada Wobble Board Exercise.
  5. Dutton, M. (2012). Orthopaedic Examination, Evaluation and Intervention.
  6. Elphinston, J. (2020). Sport, Stability and Performance Movement.
  7. Fong, D. T. P., et al. (2021). A Lateral Ankle Sprain During a Lateral Backward Step in Badminton.
  8. Helmi, D. S., et al. (2021). Wobble Board Exercise dan Isometric Exercise Lebih Baik daripada Wobble Board Exercise dan Calf Raise Exercise.
  9. Saleh, W., et al. (2022). Injury Prevention Programs that Include Balance Training Exercises Reduce Ankle Injury Rates Among Soccer Players.
  10. Waterman, B. R., et al. (2010). The Epidemiology of Ankle Sprains in the United States.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

30 Tahun Telah Berlalu, Kami Masih Menertawakan Cerita yang Sama

Berpulangnya Seorang Dokter yang Mencintai dan Dicintai Anak-Anak...

Fisioterapis, Profesi Serius yang Terlalu Sering Dianggap Receh